Berita

ilustrasi/net

Politik

Kalau Tidak Paham Masalah, Menteri-menteri Jokowi Lebih Baik Diam dan Kerja

SENIN, 05 JANUARI 2015 | 12:46 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

. Para menteri Kabinet Kerja di bawah pimpinan Joko Widodo (Jokowi) diminta untuk tidak serampangan bicara sebelum melakukan kajian atau penelitian yang baik.

Pekan lalu, ketika melakukan inspeksi mendadak ke Kecamatan Tebet Jakarta Selatan, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Yuddy Chrisnandi, menyatakan bahwa gaji pegawai negeri sipil (PNS) sudah lebih dari cukup lantaran ada PNS di Kecamatan Tebet yang ditemuinya dengan gaji hampir Rp 14 juta.

"Pernyataan tersebut menuai berbagai kritik dan komentar di media sosial dan media online. Bagaimana mungkin seorang menteri PAN-RB tidak mengetahui standar gaji PNS dan membuat pernyataan yang sangat blunder," ujar pengurus Badan Pengurus Daerah (BPD) Jaringan Kemandirian Nasional (Jaman) Sulawesi Selatan, Risfayanti Muin, dalam keterangan tertulisnya, Senin (5/1).


Dia mencontohkan, Indonesia bukan hanya Kecamatan Tebet. Contoh kecil saja, di Kemendikbud yang merupakan instansi vertikal, gaji PNS Golongan III cuma Rp 3,2 juta. Jika ditambah dengan tunjangan pun, take home pay (THP)-nya tidak sampai Rp 14 juta.

"Yang Menteri Yuddy temui adalah PNS DKI yang mempunyai tunjangan 3-4 kali THP, tetapi pada PNS di daerah lain tidaklah membawa THP sebanyak itu. Seyogyanya Bapak Menteri melakukan survei dan kajian menyeluruh pada seluruh instansi vertikal dan daerah sebelum berkomentar di media. Kajian yang parsial akan menyakiti hati rakyat banyak yang notabene masih hidup pas-pasan," kata Risfayanti.

Ia juga menyoroti Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel, yang mengomentari dampak turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap harga barang yang telah terlanjur naik. Menteri tersebut menyebutkan, pada dasarnya harga BBM tidak berkaitan dengan harga bahan baku atau bahan pokok. Menurut dia, masih mahalnya harga bahan baku adalah akibat dari pedagang yang menahan barang.

"Pernyataan ini pun menuai kritikan dan tertawaan dari masyarakat, bagaimana mungkin seorang menteri tidak tahu bahwa kenaikan dan penurunan BBM berdampak pada penaikan atau penurunan harga bahan kebutuhan pokok? Kebutuhan pokok dari petani dan pabrik tidak akan sampai di tangan konsumen tanpa distribusi yang di dalamnya akan termasuk ongkos BBM," gugat Risfayanti.

Mencermati pernyataan dua menteri tersebut, BPD Jaman Sulsel menyerukan kepada para menteri Kabinet Kerja Jokowi agar melakukan kajian dan survei secara menyeluruh sebelum melemparkan pernyataan kepada media massa.

"Jika memang tidak tahu, lebih baik diam atau lakukan saja 'kerja, kerja, dan kerja'," tegasnya. [ald] 

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya