Berita

Bisnis

Ancaman Puso Mengkhawatirkan, Pemerintah Dituntut Sigap

SENIN, 05 JANUARI 2015 | 12:10 WIB | LAPORAN:

Cuaca ekstrim yang dimulai dari bulan November 2014 hingga diperkirakan bulan Maret 2015 di sejumlah wilayah Indonesia sudah menunjukkan dampak tidak menggembirakan bagi petani.

"Cuaca ekstrim berujung banjir telah terjadi di berbagai daerah seperti Aceh, Bandung, Klaten, Bojonegoro, dan beberapa wilayah lain sentra padi yang masih terus dipantau, dan kami meminta kepada pemerintah, agar melakukan tindakan antisipasi untuk meredam dampak negatif secara nasional," ujar anggota Komisi IV DPR yang membidangi pertanian, Ma’mur Hasanuddin dalam keterangan persnya, sesaat lalu (Senin, 5/1).

Dampak negatif itu di antaranya terjadi pengurangan secara nasional produksi padi akibat puso sehingga berpotensi mengganggu stabilitas pangan. Dengan terganggunya stabilitas pangan maka akan berdampak kepada terganggunya stabilitas negara.


Ma'mun menyebutkan, dari catatan yang dimilikinya, puso terjadi di Propinsi Aceh pada areal tanam padi seluas 5.861 hektare (ha), Klaten (98 ha), Bandung (365 ha). Sedangkan di Bojonegoro, panen dipercepat akibat kekhawatiran banjir karena sekitar 97 ribu ha lahan areal dekat Bengawan Solo, sehingga jumlah produksi padi yang dihasilkan tidak maksimal.

Di wilayah Jawa Timur, Kepala Dinas Pertanian setempat sudah mengumumkan bahwa sebanyak 903 hektare lahan padi mengalami puso.

"Begitu banyaknya banjir yang terjadi akibat cuaca ekstrim diduga sebagai salah satu dampak efek domino yang terjadi akibat alih fungsi lahan," jelasnya.

Penurunan produksi pangan akibat alih fungsi yang tidak bijak, lanjut Ma'mun, selain mengurangi jumlah produksi pangan akibat lahan berkurang, sekaligus merusak lingkungan lainnya yang mengakibatkan gagalnya panen pada areal produksi.

"Saya meminta kepada pemerintah, selain memberikan solusi jangka pendek yang cepat akibat puso melalui Menko yang membahwahi Kemensos, juga jangka panjang untuk menerapkan Undang-Undang lahan pertanian pangan berkelanjutan yang menjamin tidak ada alih fungsi lahan pertanian yang produktif," pinta Ma’mur.[wid]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Marak OTT Kepala Daerah, PKB Minta Evaluasi Desain Pilkada

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:25

Program Digitalisasi Pembelajaran Jangkau 288.865 Sekolah

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:20

8 Dekade BNI Tumbuh Bersama Indonesia dalam Semangat Swadharma Bhakti Nagara

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:00

10 Biksu Thailand Tewas Tertabrak Pikap yang Dikemudikan Bocah 11 Tahun

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:47

Kemandirian Energi, Masa Depan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:42

UMiMAX Pertamina Bantu Masyarakat Rentan Kembangkan Usaha

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:30

Lewat X-ray, Bea Cukai Bongkar Penyelundupan 3,37 Ton Narkotika

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:24

13 Negara Pastikan Tempat di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Aktivis Tibet Tewas Bakar Diri di Dekat Markas PBB New York

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Bupati Langkat Syah Afandin Digiring ke Gedung Merah Putih KPK

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:11

Selengkapnya