Berita

susilo b. yudhoyono/net

Politik

SBY: Rakyat Jangan Panik, Pemerintah Jangan Gemar Menyalahkan Pihak Lain

KAMIS, 18 DESEMBER 2014 | 17:54 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengklaim bahwa apa yang disampaikannya pada 2013 lalu selaku Ketua APEC ternyata benar terjadi sekarang.

Ia menyampaikan bahwa semua negara "emerging economies", termasuk Indonesia, akan menghadapi tantangan yang berat. Tantangan itu antara lain berupa pelambatan pertumbuhan, menurunnya nilai tukar, jatuhnya harga komoditas pertanian dan mineral.

"Kembali terhadap apa yang saya sampaikan di tahun 2013, ternyata terjadi betul. Di antaranya nilai tukar kita merosot, bahkan lebih tajam," tulis SBY dalam akun twitternya Kamis dinihari (18/12).


Lewat media sosial, SBY juga mengkritik cara kerja pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang mencari kambing hitam dalam menghadapi anjloknya nilai rupiah. Baca: SBY: Rupiah Anjlok, Menteri Jokowi Cari Kambing Hitam dan SBY: Mengerti Situasi Dunia, Saya Tidak Memberikan Angin Surga

SBY mengungkapkan bahwa selama dua bulan terakhir dirinya pensiun dari jabatan presiden, ia tetap aktif berdiskusi dengan para pemimpin politik, bisnis dan ekonomi, baik di tanah air maupun di luar negeri, antara lain di Seoul (Korea Selatan), Hongkong, Singapura dan Chongqing (China).

"Ketika menanyakan ekonomi Indonesia tahun 2015, saya jawab secara logis dan realistik. Tetap positif, tetapi hati-hati. Tapi saya selalu sampaikan optimisme Presiden Jokowi dan pemerintahannya akan bisa mengatasi tantangan ekonomi di tahun-tahun sulit ini," ungkap SBY.

Bagaimanapun, lanjut SBY, ekonomi Indonesia dalam jangka panjang tetap cerah. Peluang meningkatnya pertumbuhan, investasi dan perdagangan juga kuat.

"Kembali ke soal jatuhnya nilai tukar rupiah kita, rakyat tidak perlu terlalu panik. Pasar tidak perlu terlalu cemas. Selalu ada solusinya," katanya.

Yang penting baginya, pemerintah tetap punya "sense of crisis", segera menentukan solusi, "policy response" dan aksi nyata yang jitu. Rakyat dan pasar dalam maupun luar negeri sungguh menunggu penjelasan, kebijakan dan langkah-langkah cepat.

"Sekali lagi, rakyat Indonesia jangan cepat pula salahkan pemerintah. Beri Pak Jokowi kesempatan dan berikan pula dukungan untuk atasi masalah ini. Tentu saja, pemerintah pun tak perlu gemar menyalahkan pihak lain. Sejak 20 Oktober 2014 tugas dan tanggung jawab sudah berada di tangannya," urai SBY. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya