Anggota Komisi IV DPR, Ma'mur Hasanuddin mengaku kaget dengan pola harga produk-produk yang terpajang di pasar modern, seperti supermarket dan hipermarket.
Untuk komoditas pakaian dan sepatu seakan berlomba menurunkan harga dengan potongan harga atau diskon. Berbanding dengan harga cabai yang masih bertengger di angka Rp 102 ribu per kilogram.
Seketika melihat fenomena di pasar modern itu, Ma’mur menanyakan ke beberapa petani, untuk memastikan harga biaya produksi cabai per-kg. Kekagetan politisi Fraksi PKS ini bertambah ketika mendapatkan penjelasan bahwa biaya produksinya berkisar Rp 8 ribu-Rp 12 ribu.
"Sungguh miris tata niaga pangan nasional kita, harga sangat tergantung pada tengkulak atau pedagang besar. Ini artinya pemerintah sangat minim perannya dalam mengendalikan harga pangan," sesalnya.
Ma’mur pun berpendapat, UU 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani belum efektif dilaksanakan. Terbukti, petani masih harus bertarung dengan kesengsaraan karena tidak mendapatkan jaminan harga yang seharusnya menjadi haknya.
Ma’mur menduga pasar non pangan belakangan sangat lesu menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sehingga menurunkan daya beli masyarakat. Masyarakat akan berpikir ulang karena pendapatan tetap, tapi kebutuhan yang harus dikeluarkan meningkat.
"Saya berharap pemerintah ikut berperan dalam mengendalikan harga produk pangan, dan jangan sampai kalah dengan pedagang. Kalau sampai pemerintah tidak dapat mengendalikan harga mengatasi kerja pedagang, lantas apa kerja pemerintah," pungkasnya.
[wid]