Untuk mencapai tujuan pemÂbangunan berkelanjutan tidak lagi semudah yang dibaÂyangkan. Soalnya, situasi saat ini berbeda jauh ketimbang tahun 80-an ketika konsep pemÂbangunan berkelanjutan diperkenalkan.
Pada tahun 80-an, pemÂbaÂngunan berkelanjutan belum mengÂhadapi tantangan peruÂbahan iklim seperti saat ini,†ujar Chairman of Advisory Board Social Investment InÂdonesia (SII) Jalal.
Solusinya, menurut dia, perÂlu keterlibatan semua pihak. MesÂki tetap tidak mudah, pada konteks masyarakat dunia, kekhawatiran negara maju mengingkari janji untuk memÂbantu pendanaan dan tekÂnoÂlogi buat negara berkembang guna mengurangi emisi dan damÂpak perubahan iklim memÂbuat kesepakatan penguÂrangan emisi mandek.
Selain itu, lanjut Jalal, proÂses pembangunan yang meÂnemÂpatkan ekonomi sebagai pangÂlima dan memposisikan lingkungan di bawahnya telah menghabiskan 1,5 kali lipat daya dukung bumi.
Masyarakat dunia tidak juÂjur mengakui kegagalan untuk memperbaiki kerusakan lingÂkungan,†ucapnya.
Sikap masyarakat dunia itu tercermin dari pertemuan ke-20 Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim di Lima, Peru, yang belum sepaÂkat menurunkan emisi. PadaÂhal, cuaca ekstrim yang terjadi di berbagai belahan bumi, seÂperti di Amerika Serikat hingÂga Badai Hagupit di Filipina menunjukkan bumi sudah tidak bisa kompromi.
Ketika bumi tak mau komÂpromi, kata Jalal, yang paling terdampak adalah masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia.
Tanpa risiko perubahan iklim pun, petani di Indonesia telah kesulitan untuk hidup layak,†jelas dia.
Atas situasi itu, realisasi pemÂbangunan berkelanjutan tidak lagi bisa ditawar. PemÂbangunan harus mulai menemÂpatkan lingkungan di atas ekoÂnomi, atau pembangunan yang berupaya memenuhi kebutuÂhan masyarakat saat ini. TenÂtunya tanpa mengorbankan keÂmamÂpuan untuk memenuhi kebutuÂhan masyarakat di masa depan.
Managing Partner SII Fajar Kurniawan menyatakan, unÂtuk konteks Indonesia, keterliÂbatÂan semua sektor sangat mutÂlak diperlukan guna meÂmasÂtikan pencapaian tujuan pembanguÂnan berkelanjuÂtan. Namun, yang menjadi perÂsoalan bagaiÂmana meneÂmukan model keÂmitraan yang ideal bagi InÂdonesia.
Investasi sosial, lanjut Fajar, sebagai pendekatan strategis dalam menjalankan tanggung jawab sosial masing-masing sekÂtor. Lewat investasi sosial, baik perusahaan maupun maÂsyarakat bisa memantau secara berkala sekaligus mengukur konsistensi dampak yang diÂtimbulkan atas program yang dijalankan. ***