Berita

chappy hakim

Pertahanan

Chappy Hakim: Kekuatan Laut Tidak Ada Gunanya Tanpa Pembangunan Kekuatan Udara

Indonesia Belum Punya Pemimpin yang Kuat
SELASA, 09 DESEMBER 2014 | 00:10 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Masih banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan pemerintah untuk mempertahankan kedaulatan wilayah Republik Indonesia. Terutama sekali bagaimana mempertahankan wilayah negara lewat pembangunan kekuatan udara.

Dalam perbincangan dengan Kantor Berita Politik RMOL pada Senin (8/12), tokoh Angkatan Udara RI, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, menegaskan, kekuatan laut nasional tidak akan ada gunanya tanpa pembangunan kekuatan udara.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara periode 2002-2005 ini menekankan bahwa kelemahan terbesar Indonesia sampai saat ini adalah tidak ada kepemimpinan yang kuat yang dapat menampung kebulatan visi dan ambisi yang diimbangi dengan kemampuan manajemen yang mumpuni.


"Kita adalah negara besar yang membutuhkan sistem pertahanan di laut dan udara. Sedangkan kalau kita perhatikan, setiap negara di dunia ini yang mempunyai angkatan perang yang kuat pasti dipimpin strong leader yang punya visi dan ambisi," ujar Chappy saat ditemui di tempat kerjanya, kawasan Jakarta Selatan.

Dilanjutkannya, bahwa wilayah Indonesia terdiri dari 1/3 darat, 2/3 laut dan 3/3 udara. Sistem pertahanan harus bisa membentuk "pagar perlindungan" di  perbatasan-perbatasan kritis atau critical borders.

"Pertahanan itu harus dibangun di perbatasan kritis. Di Indonesia, critical border-nya ada di Selat Malaka dan perairan selatan Timor. Karena itu harus ada kekuatan laut nasional. Tapi, maaf saja, kekuatan laut itu tidak akan ada gunanya tanpa membangun kekuatan udara," terangnya.

Chappy mengajak pemerintah tidak melupakan kekuatan udara sebagai komponen paling penting dalam pertahanan negara. Pertahanan udara yang kuat akan membentengi gagasan Poros Maritim yang tengah gencar coba diwujudkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
 
Chappy juga ingatkan bahwa cita-cita membangun pertahanan negara yang kuat akan menjadi mimpi belaka jika tanpa kepemimpinan nasional yang kuat.

"Kelemahan terbesar kita sampai sekarang adalah tidak punya strong leader yang menampung visi dan ambisi dan itu harus diimbangi high level management skill," tegasnya. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya