Di masa kepemimpinan Karen Agustiawan, Pertamina di sektor hulu migas berhasil meningkatkan produksi minyaknya dari 121.000 barel per hari pada 2010 menjadi 224.000 barel per hari pada 2013.
Di sektor hilir, Pertamina memperkokoh penguasaan pangsa pasar BBM non subsidi dan pelumas di pasar domestik dan gencarnya ekspansi pasar beberapa produk seperti aviasi, pelumas dan BBM (bahan bakar minyak) industri ke luar negeri.
Demikian dikatakan Koordinator Indonesia Energy Watch (IEW), Syarif Rahman Wenno, dalam rilisnya, Rabu (3/12).
Di masa Karen juga, ekspor pelumas produk Pertamina telah berhasil menembus 24 negara dan tetap memperkokoh penguasaan pangsa pasar dalam negeri sebesar 65 persen. Dari sisi kinerja perusahaan, tahun 2009 ketika Karen baru memimpin, pendapatan Pertamina masih sebesar Rp 378,35 triliun. Tahun 2013 sudah naik hampir dua kali lipat menembus angka Rp 743,11 triliun. Bahkan laba bersih Pertamina selama era Karen berhasil naik dari Rp 15,8 triliun pada 2009 menjadi Rp 32,05 triliun pada 2013 lalu atau naik 102,89 persen.
"Capaian-capaian tersebut merupakan
progress yang luar biasa di tengah tren penurunan produksi minyak nasional," kata Syarif Rahman Wenno, dalam rilisnya, Rabu (3/12).
Sedangkan kini, ada beberapa tantangan yang akan dihadapi Direktur Utama PT. Pertamina yang baru, Dwi Soetjipto. Pertama, Dwi harus piawai dalam mengorganisir Pertamina sehingga menjadi perusahan bertaraf global. Menurut Syarif, ini bukan pekerjaan yang sederhana.
Kedua, kemampuan untuk melakukan koordinasi dan negosiasi dengan parlemen. Pertamina mau tidak mau akan selalu terseret dalam masalah politik terkait perencanaan dan realisasi APBN, khususnya tentang keberadaan subsidi BBM (bahan bakar minyak). Di sini, Pertamina menghadapi dilema serius terkait kepada siapa seharusnya BBM itu diperuntukkan, karena banyak penyelundupan terjadi dan target subsidi yang tidak tepat. Padahal ini ranah pemerintah.
Masalah ketiga, dalam banyak kasus pimpinan BUMN sering dijadikan sapi perahan bagi partai politik atau partai berkuasa. Dan ini sering menjadikan hubungan Pertamina dan pemerintah panas dingin dalam mengekspresikan segala kebijakan Pertamina sebagai sebuah perusahaan bisnis.
"Dari sekelumit masalah yang dihadapi maupun nanti akan dihadaai, idealnya pengganti Karen Agustiawan ini (Dwi Sutjipto) setidaknya memiliki kompetensi di bidang energi dan terbiasa menghadapi tekanan politik, apalagi di sektor hulu yang sangat rentan diobrak-abrik oleh berbagai kepentingan politik bisnis," tandasnya.
[ald]