Berita

ilustrasi/net

Kemacetan Jakarta Diatasi dengan Cara Pintas dan Mahal Tapi Tidak Berguna

SENIN, 24 NOVEMBER 2014 | 20:15 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL.  Indonesia Traffic Watch (ITW) menilai, upaya pemerintah mengatasi kemacetan DKI Jakarta saat ini lebih cenderung berorientasi bisnis, bahkan mengorbankan kepentingan rakyat banyak.

ITW menyebutkan sistem Electronic Road Pricing (ERP) atau jalan berbayar, yang harus lebih dulu mengorbankan pengendara sepeda motor dengan larangan untuk tidak melintas di kawasan MH Thamrin dan Medan Merdeka Barat. Kemudian pembangunan enam ruas tol dalam kota yang membutuhkan dana besar, sementara belum ada jaminan pembangunan ruas tol tersebut akan mengatasi kemacetan.

Bahkan, proyek monorel yang hingga kini hanya tampak tiang beton, namun tak ada kejelasan kelanjutan proyek tersebut. Kemudian proyek pembangunan MRT yang juga masih mengalami kendala pembebasan lahan.


Selanjutnya, wacana pembangunan  light rapid transit (LRT) atau transportasi rel cepat.

"Semua wacana itu hanya indah untuk dibayangkan, namun sulit mewujudkannya. Sementara produsen kendaraan terus menjanjikan kenyamanan setiap produknya untuk menarik minat masyarakat lalu membelinya,' kata Ketua Presidium ITW, Edison Siahaan, Senin (24/11).
 
Edison mengakui, lalu lintas dan transportasi umum Jakarta sebagai ibukota negara dan kota metropolitan sudah harus didukung dengan teknologi berbasis elektronik. Selain cermin budaya, lalu lintas juga merupakan potret modernitas sebuah bangsa. Tetapi upaya itu harus diawali dengan menyiapkan persyaratan dan melakukan sosialisasi sehingga masyarakat bisa memahaminya dengan baik.

Dalam program jangka panjang dan menengah , lebih baik pemerintah membuat perencanaan yang matang untuk membangun transportasi angkutan umum yang modern tapi terjangkau dan tentu  bisa mewujudkan Keamanan, Keselamatan, Ketertiban dan Kelancaran (Kamseltibcar) lalu lintas.
 
"Pemerintah harus memulai kebijakan dari yang sederhana dan secara bertahap menerapkan sistem yang lebih kompleks dan canggih. Kebijakan pintas dan mahal belum tentu bisa menjadi solusi dan cocok untuk mengatasi kemacetan," pungkas Edison Siahaan.

Baca: ITW: Pemerintah Harus Berani Moratorium Produksi dan Perketat Syarat Memiliki Kendaraan [ald]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya