Berita

syafril sofyan/net

Politik

Menteri ESDM Sebaiknya Dicopot

SELASA, 11 NOVEMBER 2014 | 17:37 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pernyataan Menteri ESDM Sudirman Said bahwa 20 blok migas yang kontraknya akan habis tidak harus diberikan dan dikelola oleh PT Pertamina (Persero) menuai kecaman.

Aktivis 77-78 yang  menjadi deklarator pendukung Jokowi di Pilpres lalu, Syafril Sjofyan mengatakan, cara pikir Sudirman bertentangan dengan Konstitusi. Pasal 33 UUD 45 dengan tegas memerintahkan, kekayaan alam dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat.

"Jika masih tetap berkeinginan menyerahkan 20 kontrak termasuk Blok Mahakam kepada asing atau kepada perusahaan nasional yang dimodali oleh asing, sebaiknya Sudirman Said mengundurkan diri saja. Atau Presiden Jokowi harus segera melengserkan dan mengganti dengan menteri ESDM yang punya keberpihakan lebih kepada rakyat dan bangsa Indonesia," papar Syafril kepada kantor berita politik sesaat lalu (Selasa, 11/11).


Seharusnya, kata dia, sebagai Menteri ESDM Sudirman tidak membatasi ekspansi Pertamina sebagai perusahaan minyak pelat merah. Dia harus mendukung Pertamina bisa menjadi perusahaan yang mendunia dan menjadi kebanggaan bangsa, minimal seperti Petronas Malaysia yang mampu menyetor Rp 200 triliun lebih  kepada Kerajaan Malaysia atau setara 40% APBN Malaysia. Sudirman harus ingat bahwa Pertamina saat ini hanya sanggup menyetor kurang dari Rp 10 triliun atau setara 2% dari total  APBN kita.

Menurut dia, kecilnya pemasukan dari Pertamina antara lain akibat adanya mafia migas. Tidak jelas berapa pemasukan dari Petral, anak usaha peramina di Singapura. Laba dari Petral hanya diperuntukan untuk suap dan biaya politik kekuasaan. Penyebab lainnya adalah  86 % dari 137 konsesi pengelola lapangan minyak dimiliki oleh perusahaan asing seperti Chevron, Total, Conoco, Petro China dan CNOCC, sementara hanya  sekitar 14 % dikelola perusahaan nasional itupun beberapa perusahaan lokal dengan pemodal asing.

Syafril mengingatkan sebelumnya Sudirman juga menunjukkan cara pikir yang melawan konstitusi. Satu minggu dilantik sebagai menteri, dia menyatakan subsidi BBM membuat rakyat malas. Kesimpulan Sudirman ini jelas-jelas melanggar konstitusi karena UU menjamin adanya subsidi.

"Menteri ESDM, menurut saya, sangat tidak cerdas alias ndableg. Jalan pikiran menteri yang satu ini distir mafia minyak," katanya.

Seharusnya, sambung Syafril, Menteri ESDM fokus terhadap penyelesaian permasalahan di hulu, bukan hanya mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontradiktif. Bukan hanya sekadar menaikan harga BBM dengan alasan klasik yang diada-adakan, seharusnya punya terobosan kreatif supaya rakyat tidak menanggung penderitaan dengan kenaikan harga.

Sudirman katanya, harus menyusun strategi bagaimana meningkatkan lifting minyak menjadi 1,2 hingga 1,4 juta barel per hari sesegera mungkin. Selain itu, dia juga harus menurunkan cost recovery sampai 30%. Akuisisi Pertamina di tahun 2013 terhadap beberapa blok di luar negeri, dan keikutsertaan Pertamina di Blok Irak dan Aljazair harus dikejar. Hal yang sama, katanya lagi, harus dilakukan terhadap beberapa blok di dalam negeri seperti Blok Siak, Blok Pangkah dan Blok Natuna.

"Perbaiki kilang-kilang yang sudah tua termasuk storage (penyimpanan) sehingga impor bisa ditekan. Pekerjaan ini penting dilakukan disamping program membangun kilang baru," demikian Syafril.[dem]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya