Berita

susi pudjiastuti/net

Politik

Menteri Susi: Saya yang Nggak Tamat Sekolah Harus Bekerja 3 Kali Lebih Keras

SABTU, 01 NOVEMBER 2014 | 19:26 WIB

Selain hanya tamatan SMP,  kebiasaan merokok dan tato yang ada di kakinya membuat sosok ini semakin kontroversial.

Berbagai pertanyaan pun bermunculan di masyarakat. Mengapa Presiden Joko Widodo mengangkat seseorang yang tidak tamat SMA menjadi menterinya? Apakah sosok seperti itu layak dan mampu memimpin Kementrian? Apa tidak ada orang yang lain yang lebih layak?

Sosok itu tak lain Susi Pudjiastuti. Bos Susi Air tersebut dipercaya oleh Presiden Jokowi untuk menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan di Kabinet Kerja. 


Siapa sebenarnya Susi Pudjiastuti, sosok yang sedang hangat diperbincangkan di masyarakat saat ini dan jadi sorotan tajam media? Jurnalis senior, Uni Lubis menuliskan kisah kontroversi Susi lewat laman pribadinya, Unilubis.com pada Kamis lalu (30/11).

Berikut kutipan lengkap ceritanya:

”Siapa yang ingin jadi orang tua tunggal? Siapa yang ingin gagal dalam kehidupan dua kali perkawinan?  Mengapa media lebih suka menyoroti kehidupan pribadi saya? Tato saya? Kebiasaan merokok? Saya pernah menikah dengan orang asing? Utang bank? Tahu nggak bahwa aset saya, pesawat-pesawat dan pabrik itu lebih besar nilainya?"

Rentetan pertanyaan itu meluncur dari bibir Susi Pudjiastuti, pagi tadi, begitu melihat saya muncul di pintu kamar istirahatnya. Mbak Susi, begitu saya biasa memanggilnya, merujuk kepada gencarnya pemberitaan media yang menguliti kehidupan pribadinya. Kebiasaannya merokok. Media memuat foto dan gambar Mbak Susi duduk bersimpuh di salah satu sudut halaman belakang Istana Merdeka usai pengumuman kabinet Kerja oleh Presiden Jokowi, Minggu sore (26/10). Menteri Susi duduk melepas lelah seraya melepas sepatu berhak . Nampak lelah. Dia mengisap sebatang rokok. Sontak, foto ini menjadi diskusi di saluran media sosial. Terjadi pro-kontra, apakah pantas seorang pejabat publik merokok di depan umum?

Rabu pagi (29/10) pukul 07.00 wib, Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) di kabinet Presiden Joko Widodo itu tiba di kantor KKP, di kawasan depan Gambir, Jakarta. Dia menggunakan mobil menteri, sedan Toyota Camry dengan nomor polisi B 39. Saya menemuinya di ruangan tempat istirahat, di belakang ruang kerja Menteri di lantai 7 Gedung KKP. Tim perias dari sebuah salon terkemuka tengah memasangkan sanggul. Pukul 10.30 wib, Mbak Susi, menjalani acara serah terima jabatan dengan pendahulunya, politisi Partai Golkar, Sharif Cicip Sutardjo.

Sebelum acara sertijab, pukul 8.00 wib dia menerima wawancara tim ANTV di ruangan tamu di lantai 7 gedung KKP. Pukul 09.00 wib Mbak Susi turun ke lobi. Puluhan wartawan sudah menunggu sejak pagi. Kru Metro TV memandunya untuk melakukan siaran langsung. Oh, ya, disela-sela dua wawancara TV dia menjalani sesi pemotretan resmi untuk dokumentasi kementerian. Mbak Susi harus berganti baju hingga tiga kali. Dia sempat mengaduk-aduk koper kecil mencari kerudung saat staf KKP memintanya berfoto dengan kerudung. “Tolong pinjamkan dari karyawan,” kata Bu Susi, demikian sebutannya di lingkungan KKP.

Mbak Susi tak mau dipanggil “Ibu Menteri”. “Kalau dipanggil Ibu Menteri, saya nggak nengok. Nggak ngeh. Kalau Ibu Susi, pasti nengok,” ujarnya. Staf KKP menginformasikan bahwa dia juga harus menggunakan baju batik untuk sesi pemotretan terakhir. Mbak Susi membuka lemari, lagi-lagi membongkar koper. Nihil. “Duh, aku nggak punya baju batik,” keluhnya. Saya menggodanya, “perlu menelpon Obin?”. Dia menjawab, “eh, iya, kapan itu Obin janjian mau ketemu aku lho.” Obin adalah nama perancang terkemuka yang dikenal dengan tenun kualitas tinggi, termasuk batik. Sesi pemotretan dengan baju batik ditunda.

Ketika menghadiri pelantikan sebagai menteri di kabinet Presiden Jokowi, Mbak Susi tampil feminin,menggunakan kebaya. Satu-satunya menteri perempuan yang berkebaya. Tujuh menteri perempuan lain menggunakan blus batik. Mbak Susi ke Istana ditemani Solichin GP, mantan Gubernur Jawa Barat. Sebelum masa pensiunnya, Mang Ihin, panggilan akrabnya, menjabat sekretaris pengendalian logistik dan pembangunan di kantor Presiden Soeharto.

Ketika bersiap-siap menuju ke Istana, di ruang yang disewa Mbak Susi di Hotel Grand Hyatt, Mang Ihin sempat mengingatkan, “kamu itu jangan merokok. Saya tuh sudah perhatikan, orang yang merokok itu, matinya susah. Pake sakit.”   Mbak Susi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum melihat Mang Ihin, sosok yang dianggapnya sebagai senior, kawan baik dan yang dituakan. Kata Mang Ihin, ”ketika Susi ini mulai merintis usahanya, dia sering saya marah-marahi. Tapi mungkin karena itu, dia malah jadi menteri. Dan saya sekarang mendapat kehormatan untuk mendampinginya ke istana.”

Seorang teman saya berkomentar di Facebook, dia kesulitan menjawab pertanyaan anaknya yang baru berumur 10 tahun, ketika melihat berita TV soal Menteri Susi merokok. Saya sampaikan ini ke Mbak Susi. Tanggapan dia, “Smoke is not good. I’ve tried to quit. But not easy. I will try. But, I’ve asked media not to publish that picture.”   Mbak Susi menceritakan suasana sore itu, usai pengumuman kabinet Jokowi. Begitu Presiden meninggalkan lokasi dan mempersilahkan media mewawancarai menteri-menterinya, dia salah satu yang diserbu banyak wartawan. Sejak dua hari sebelumnya wartawan sudah memburu Mbak Susi setelah namanya muncul dalam daftar yang beredar di masyarakat.

Diburu wartawan, meladeni pertanyaan itu melelahkan. Apalagi para menteri harus berada di istana dua-tiga jam sebelum pengumuman. Sejak dipanggil Jokowi, Kamis (23/10), jadwalnya kian padat. Mbak Susi harus menyiapkan perusahaan yang selama ini diurus detil, sebagai direktur utama, untuk diserahkan pengelolaannya ke orang lain yang dia percayai. Presiden meminta semua menterinya berkonsetrasi penuh untuk kerja, kerja, kerja. Susi segera melepas jabatan di perusahaan yang meliputi bisnis aviasi, perikanan, sekolah pilot dan survei udara.

“Sore itu rasanya, ….saya ini nggak pernah mimpi menjadi menteri. Jadi, sesudah pengumuman di istana, after that big moment, saya cuma ingin sendiri. Saya cari tempat agak mojok, di sudut. Lelah, ingin merokok. Beberapa media mengikuti. Saya sudah minta media jangan diambil gambar dong. Saya nggak mau kasi contoh merokok. Just give me a break. Sebentar. Jangan dimuat ya. Eh dimuat. Rame kan. Media nakal-nakal ya? “ Susi melanjutkan, “mengapa yang dikorek-korek selalu masalah pribadi saya? Tolong disampaikan, media please help me, instead of bullying me. Help me to do my job.”

Meski tak menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, bahasa Inggris Mbak Susi bagus. Dia belajar bahasa asing dengan banyak membaca buku. Juga karena harus berkomunikasi dengan mantan suami yang warga negara asing, Daniel Kaiser.   Dari pernikahan dengan Daniel Kaiser yang kini tinggal di Swiss, Mbak Susi dikaruniai seorang putri, Nadine. Susi memiliki tiga anak dan satu cucu dari dua pernikahan. Daniel Kaiser mantan suaminya sengaja terbang dari Swiss untuk memberikan selamat kepada Mbak Susi yang diangkat menjadi menteri.

Bagaimana reaksi anak-anak mengetahui Ibunya menjadi menteri? “My kids are proud to me. Cucu saya, si Arman, komentarnya, “Wow, Uti, you got a very significant job. Significant? Bayangkan Mbak Uni, anak umur delapan tahun menggunakan kata-kata yang sophisticated. Hebat nggak? ” tutur Mbak Susi. Matanya berbinar saat menceritakan anak dan cucu.

“I am a proud single Mom”.

Sejenak Mbak Susi berdiri mematut diri di depan cermin. Pasang sanggul dan rias wajah selesai. Dia nampak cantik dan anggun. Daniel Kaiser sang mantan suami berkomentar, “Kalau mau nampak cantik, Bu Susi bisa banget. Tapi sehari-hari dia tidak suka dandan.” Mbak Susi tertawa. Yep, sehari-hari dia memang tampil apa adanya. Baju koleksinya yang biasa saja. Beberapa kali saya menemuinya di bandara Halim Perdana Kusuma, di mana Susi Air punya konter dan kantor. Bos perusahaan penerbangan yang kini mengoperasikan 49 pesawat itu hanya menggunakan rok santai, kadang celana selutut. Rambut digelung dengan jepitan ke atas. Tanpa riasan.

“Saya menyekolahkan anak-anak saya ke sekolah terbaik. Sekolah itu penting. Yang nggak tamat sekolahnya seperti saya harus bekerja tiga kali lebih keras untuk bertahan hidup,” kata Mbak Susi. Dia menanggapi cemooh sebagian orang yang menyoal, mengapa Presiden Jokowi mengangkat seseorang yang tidak tamat SMA menjadi menterinya? Dua putra dan putri Mbak Susi sejak awal sekolah di sekolah internasional. Putra sulungnya sudah menikah dan memberinya seorang cucu.

Kisah hidup Mbak Susi adalah perjalanan panjang, 33 tahun perjuangan di dunia yang keras. Bergaul dengan nelayan, yang dalam struktur pertanian negeri ini adalah kalangan yang tergolong paling miskin. Perolehan untuk kehidupan bergantung kepada musim, modal, kemampuan pemasaran. Sejak sekolah Mbak Susi dikenal tomboi. Dia menjalani dunia bisnis yang didominasi kaum lelaki pula. “Tidak ada pilihan. Dalam bisnis yang saya jalani, you have to be strong. Mentally and physically ,” kata Mbak Susi. Dia menjaga pola makan dengan banyak mengkonsumsi buah.


Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya