Berita

samad dan jokowi/net

Hukum

PKS: Jokowi-KPK Harus Klarifikasi Menteri Bertanda Merah

SENIN, 27 OKTOBER 2014 | 05:36 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan diantara 34 menteri yang ditunjuk Presiden Jokowi, ternyata ada yang sebelumnya diberi catatan merah dan kuning oleh KPK.

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aboe Bakar Al Habsy mengatakan hal ini akan menjadi
ujian konsistensi dari Jokowi dalam menjalankan proses penentuan menterinya.

"Itu saya rasakan saat melihat siaran langsung pengumuman kabinet melalui Tv di dapil saya. Masyarakat mempertanyakan, kenapa kok masih ada menteri yang kemarin sudah dikasih tanda merah oleh KPK?" kata Anggota DPR-RI dapil Kalimantan Selatan I ini kepada redaksi, Senin (27/10).

"Itu saya rasakan saat melihat siaran langsung pengumuman kabinet melalui Tv di dapil saya. Masyarakat mempertanyakan, kenapa kok masih ada menteri yang kemarin sudah dikasih tanda merah oleh KPK?" kata Anggota DPR-RI dapil Kalimantan Selatan I ini kepada redaksi, Senin (27/10).

Disisi lain, lanjut Aboe Bakar, ini juga akan menjadi uji nyali dan uji kejujuran buat KPK, bila memang ada yang ditandai merah namun masih diangkat jadi menteri, Abraham Samad Cs harus berani mengambil langkah hukum.

"Saya rasa KPK maupun Jokowi perlu memberikan klarifikasi soal ini, jangan sampai menjadi spekulasi liar," ungkapnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengumumkan kabinetnya di Istana Merdeka Jakarta, Minggu sore (26/10). Kabinet yang diberi nama 'Kabinet Kerja' itu terdiri dari 34 kementerian, dengan empat menteri koordinator.

Sebelumnya, Ketua KPK Abraham Samad meminta 8 dari 43 nama yang disodorkan Jokowi untuk dicek rekam jejaknya oleh KPK tak dipilih jadi menteri. Hasil penulusuran KPK, 8 calon menteri tersebut berpeluang besar jadi tersangka. Dalam catatanya, KPK mengelompokkan 8 nama tersebut dengan tanda merah dan kuning. Abraham menjanjikan calon menteri yang diberi tanda merah dan kuning akan dijerat sebagai tersangka dalam kurun waktu satu tahun hingga dua oleh KPK. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya