Berita

Politik

Rachmawati: Situasi Sekarang Mirip Situasi Menjelang Gestok

JUMAT, 17 OKTOBER 2014 | 00:41 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Dalam pidato berjudul Nawaksara yang disampaikan di depan MPRS pada tanggal 22 Juni 1966, Presiden Sukarno menegaskan pandangannya mengenai peristiwa penculikan dan pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira muda yang dikenal dengan nama Gerakan Satu Oktober 1965 atau Gestok.

Pidato Bung Karno itu ditolak oleh MPRS. Dan sebagai jawaban atas penolakan itu Bung Karno menyampaikan pidato yang kemudian dikenal dengan judul Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah atau Jas Merah pada tanggal 7 Agustus 1966. Bung Karno dicopot dari jabatan presiden dan segala hak politiknya dibungkam lewat Tap MPRS XXXIII/1967.

Menurut putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri, tampaknya situasi yang sedang terjadi kini pun memiliki kemiripan dengan situasi yang digambarkan Bung Karno menjelang peristiwa Gestok di dalam pidato Nawaksara itu.


Menurut Bung Karno, kata Rachma kepada redaksi, ada tiga penyebab peristiwa Gestok. Pertama, kelihaian kelompok Neo Kolonialisme Imperialisme (Nekolim). Kedua, "keblingernya" pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketiga, ada sejumlah oknum yang tidak beres di dalam negeri.

"Saat ini pun situasinya tidak jauh berbeda. Yaitu, ada intervensi asing, negara-negara kapitalis dan proxy-nya. Kemudian, keblingernya pimpinan PDI Perjuangan, dan adanya antek-antek kaum neolib di dalam negeri," ujar Rachmawati.

Mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu, rezim yang baru di bawah kepemimipinan Joko Widodo-Jusuf Kalla, mendesain Indonesia demi kepentingan konstitusi yang berjiwa liberal, dan mengarah menjadi negara federalis. Apalagi, bila Dewan Perwakilan Daerah diperkuat, tata kelola ekonomi free market liberalism menentang pasal 33 UUD 1945, dan kedaulatan politik mengikuti kebijakan ekonomi liberal.

"Artinya, bohong besar rezim baru nanti menjalankan Tri Sakti, melainkan hanya slogan mengelabui rakyat dengan jargon-jargon kerakyatannya. Walhasil, Indonesia tanpa negara, stateless tinggal nama," ujarnya sembari mengajak para pencinta Tanah Air untuk turun tangan membela negara. [ald]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

AKPI Perkuat Profesionalisme dan Integritas Profesi

Senin, 13 April 2026 | 19:51

KNPI: Pemuda Harus Jadi Penyejuk di Tengah Isu Pemakzulan

Senin, 13 April 2026 | 19:50

14 Kajati Diganti, Termasuk Sumut dan Jatim

Senin, 13 April 2026 | 19:31

Cara Buat SKCK Online lewat SuperApps Presisi Polri, Mudah dan Praktis!

Senin, 13 April 2026 | 19:17

Bersiap Long Weekend, Ini Daftar 10 Tanggal Merah di Bulan Mei 2026

Senin, 13 April 2026 | 19:16

Viral Dokumen Kerja Sama Udara RI-AS, Okta Kumala: Kedaulatan Negara Prioritas

Senin, 13 April 2026 | 19:14

Daftar Hari Libur Nasional Mei 2026, Ada 3 Long Weekend

Senin, 13 April 2026 | 19:07

Ajudan Gubernur Riau Terima Fee Proyek Rp1,4 Miliar

Senin, 13 April 2026 | 19:02

4 Penyakit yang Harus Diwaspadai saaat Musim Pancaroba

Senin, 13 April 2026 | 18:57

Ongen Sentil Pengkritik Prabowo: Jangan Sok Paling ‘98’

Senin, 13 April 2026 | 18:52

Selengkapnya