Berita

Politik

Jokowi Tak Butuh Bos Perusahaan Asing untuk Urus Migas Indonesia

MINGGU, 12 OKTOBER 2014 | 18:07 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Bukan rahasia lagi. Dari semua kementerian, Joko Widodo memberi perhatian khusus pada Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian.

Pengamat sosial politik dari Forum Masyarakat Maluku (Formama), Arnold Thenu, menyatakan, karena itulah calon Menteri ESDM yang memiliki nyali besar untuk menjalankan program-program 5 tahun ke depan sangat dibutuhkan. Mengacu pada bursa kandidat Menteri ESDM yang beredar di publik, Arnold menyorot nama Poltak Sitanggang.

Menurut Arnold, keberanian seorang kandidat menteri bukan diukur dari kemampuannya mengelola bisnis sebuah perusahaan multinasional atau keberhasilannya menjalankan proyek saja.


"Karena hal itu bukan wujud dari keberanian, namun hal yang lumrah harus dilakukan seorang CEO perusahaan, bagian dari rencana bisnis biasa yang dijalankan. Sementara untuk seorang Menteri ESDM di Kabinet Jokowi-JK dibutuhkan keberanian sekaligus rasa kecintaan yang tinggi terhadap bangsa dan tanah airnya karena memberantas mafia migas," kata Arnold di dalam rilis yang diterima redaksi, Minggu (12/10).

Menurut dia, melakukan renegoisasi terhadap kontrak-kontrak karya pertambangan asing yang selama ini tidak menguntungkan negara dan rakyat serta penegakan kedaulatan sumber daya alam bukanlah negoisasi bisnis semata, namun dilandasi oleh kepentingan bangsa. Arnold mengatakan, hal itu sudah dilakukan oleh Poltak Sitanggang saat memenangkan renegoisasi KK Rio Tinto di Sulawesi. Ia juga sukses merebut lahan seluas 44 ribu hektar yang sebelumnya dikuasai oleh perusahan asing tersebut di pengadilan.

Menurut Arnold lagi, nama-nama seperti Karen Agustiawan, Arie Soemarno, Darwin Silalahi dan yang muncul terakhir di publik seperti Iwan Ratman dan Emirsyah Satar, tidak memiliki keberanian yang dibutuhkan seorang Menteri ESDM Kabinet Jokowi-JK.

"Prestasi mereka di perusahaan masing-masing lebih karena dukungan fasilitas, keuangan dan rencana bisnis matang dari perusahaan di belakang mereka. Mereka dibesarkan oleh perusahaan minyak asing atau pernah bekerja dan memiliki hubungan dengan perusahaan-perusahaan asing tersebut," tambahnya.

Ia mencontohkan nama Karen Agustiawan dan Darwin Silalahi yang jelas-jelas memiliki rekam jejak sebagai pejabat dari perusahaan minyak asing yaitu MobilOil dan Shell.

Sementara dua nama lainnya, Arie Soemarno dan Iwan Ratman justru harus diwaspadai oleh kubu Jokowi-JK jika masuk dalam kabinet. Rekam jejak keduanya jelas tidak memenuhi harapan publik. Arie Soemarno selama ini terindikasi terlibat dalam kasus impor minyak Zatapi, dan pengalamannya sebagai pucuk pimpinan Petral membuat kredibilitasnya dipertanyakan. Sementara Iwan Ratman justru mengajak Rudi Rubiandini, orang yang selama ini dikenal bersih, untuk main golf dan mengenalkannya dengan Deviardi hingga akhirnya Rudi dan Deviardi terjerat suap-menyuap yang membawa mereka ke penjara.

Nama lainnya seperti Emirsyah Satar menurut Arnold sangat tidak kompeten dengan pos Kementerian ESDM. Sebagai akuntan yang berlatar belakang bisnis perbankan, maka orang seperti Emirsyah Satar ini akan kewalahan jika didudukkan di kursi Menteri ESDM. Pertimbangannya dalam memberantas mafia migas dikhawatirkan terganggu dengan latar belakangnya sebagai akuntan yang berurusan dengan uang.

Poltak Sitanggang diketahui merupakan salah satu kandidat Menteri ESDM yang disebutkan langsung oleh Jokowi dalam pertemuan dengan Aktivis 98 di Bali pada Akhir September lalu. Ia juga merupakan kandidat Menteri peraih polling tertinggi di situs www.kabinetrakyat.org yang dikunjungi oleh 1,2 juta orang. Selain itu Poltak juga diunggulkan dalam polling di www.beranilawanmafia.com yang digagas oleh para mahasiswa Indonesia di Singapura.[wid] 

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

TNI Siap Turunkan Penerjun Khusus Padamkan Api Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:50

KDKMP Upaya Merebut Kedaulatan Rakyat Atas Pasar

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:34

Pemerintah Kembali Kirim Bantuan ke NTT dan Kalimantan, dari Logistik hingga 500 Mesin Pompa Air

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:30

Sri Purwanti Bangun Bisnis Kuliner Halal Citarasa Nusantara di Taiwan

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:26

Rupiah Melemah, Sanksi Baru AS ke Iran jadi Biang Kerok

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:13

Prabowo Dorong Uji Coba Ubi Bombing untuk Atasi Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:43

El Nino Sangat Kuat, Jangan Bakar Lahan untuk Land Clearing

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:42

Rumor 62,2 Persen Saham BYAN Warning bagi Pasar Modal

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Pencemaran Berulang, DPR Desak Sumber Limbah Pencemar Kali Bekasi Diusut

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Bioskop Jaksinema Hadir di Pasar Rumput, Tiket Cuma Rp15 Ribu

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:28

Selengkapnya