Berita

Arief Poyuono/net

Politik

Waketum Gerindra: Justru Jokowi Yang Membuat Nilai Tukar Rupiah Melemah

RABU, 08 OKTOBER 2014 | 18:34 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Pengamat pasar modal saat ini sedang melakukan kampanye negatif terhadap Koalisi Merah Putih (KMP) yang menyapu bersih pimpinan di DPR RI maupun MPR RI. Dengan mengunakan analisa yang ngawur kalau nilai tukar rupiah terhadap AS dolar yang melemah dan anjloknya nilai IHSG karena penguasaan KMP di parlemen.

Wakil Ketua Umum DPP Gerindra FX. Arief Poyuono, mengatakan, anjloknya kurs rupiah yang menembus hingga Rp 12,247 perdolar AS lebih disebabkan kebutuhan akan dolar untuk melakukan impor yang makin meningkat seperti impor BBM dan pangan serta bahan baku.

Selain itu, lemahnya nilai tukar rupiah disebabkan oleh kenaikan suku bunga FED karena ekonomi AS membutuhkan dana yang likuid untuk menciptakan lapangan kerja. Malah kalau mau lebih ekstrim, kata Arief Poyuono, kejatuhan kurs rupiah terhadap dolar menunjukan pasar ragu akan kemampuan Joko Widodo dalam memerintah.


"Sebab baru-baru ini saya bertemu dengan sejumlah "fund" manager di Singapore dan Hongkong justru mereka bertanya apa orang Indonesia tidak salah memilih Joko Widodo sebagai presiden, sebab mereka memastikan bahwa Joko Widodo masih belum memiliki kemampuan untuk memimpin Indonesia," ujar Arief Poyuono kepada RMOL, Rabu (8/10).

Dan ini, sambung dia, terbukti dengan makin melemahnya nilai rupiah terhadap AS dolar dan mata uang asing linnya semenjak KPU menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pemenang pilpres.

Arief Poyuono menambahakan, hal lain yang meyebabkan rontoknya rupiah dan IHSG disebabkan juga karena pelambatan pertumbuhan ekonomi global dari data-data ekonomi Jerman yang buruk. Sehingga banyak aksi jual saham dan tarik AS dolar untuk melakukan hedging dan menjaga likuiditas modal oleh perusahaan jasa keuangan.

"Sehingga makin sangat jelas pengamat pasar modal dan analis keuangan di dalam negeri telah melakukan pembohongan publik dengan mendiskreditkan Koalisi Merah Putih yang menguasai parlemen," pungkasnya. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya