Berita

ilustrasi pasukan pbb/net

Dunia

PBB Siap Ambil Langkah Militer bila Pemberontak Kongo Tak Lucuti Senjata Hingga Januari

SABTU, 04 OKTOBER 2014 | 11:48 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Dewan Keamanan (DK) PBB akan mengambil tindakan militer bila kelompok pemberontak di Kongo timur tidak juga meletakkan senjatanya dan menyerah hingga batas waktu yang diberikan yakni Januari 2015 mendatang.

Dalam sebuah pernyataan, DK PBB pada Jumat (3/10) menekankan keprihatinan mendalam karena sejak batas waktu ditetapkan awal Juli lalu, tak satupun anggota dari kelompok pemberontak yang menamakan diri Democratic Forces for the Liberation of Rwanda atau yang dikenal dengan FDLR menyerahkan diri secara sukarela.

Kelompok bersenjata yang memiliki sekitar 1.500 pasukan itu dibentuk oleh mantan ekstrimis Rwanda dari suku Hutu yang mengambil bagian dalam genosida tahun 1994 dan kemudian melarikan diri melintasi perbatasan.


DK PBB menyebut, Kongo yang didukung oleh misi PBB akan mengambil tindakan militer terhadap pemimpin dan anggota FDLR yang tidak mematuhi batas waktu itu dan memilih untuk terus melakukan pelanggaran HAM.

Pernyataan itu dikeluarkan menyusul adanya laporan terbaru yang menyebut bahwa proses pelucutan senjata di Kongo tak berjalan. Dalam laporan itu disebutkan pula, bahwa ini bukan kali pertama permintaan pelucutan senjata diabaikan.

Padahal pada Agustus lalu, dikabarkan Associated Press, delegasi gabungan Kongo dan PBB telah memberikan pesan keras pada pimpinan FLDR bahwa 70 persen pasukannya harus sudah menyerahkan senjata dan meninggalkan kongo hingga 2 Oktober. Namun permintaan itu tidak dijalani.

DK PBB dalam pernyataan terbaru juga dengan tegas menolak semua dialog politik dengan FDLR karena menilai kelompok itu telah melakukan genosida, kejahatan perang, dna kejahatan atas kemanusiaan.

Diketahui wilayah Kongo timur merupakan tempat bagi sejumlah kelompok militan bersenjata yang berkompetisi untuk mengambil kendali wilayah kaya sumberdaya mineral itu.. Selain berasal dari Rwanda, kelompok pemberontak di wilayah itu juga berasal dari Burundi dan Uganda. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Tembok Pertahanan Persib Kunci Sukses Juara Paruh Musim

Sabtu, 17 Januari 2026 | 03:36

Tabur Bunga Dharma Samudera

Sabtu, 17 Januari 2026 | 03:19

Realisasi Investasi DKI Tembus Rp270,9 Triliun Sepanjang 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 02:59

Pemerintah Tidak Perlu Dibela

Sabtu, 17 Januari 2026 | 02:40

SP3 Eggi Sudjana Banjir Komentar Nyinyir Warganet

Sabtu, 17 Januari 2026 | 02:12

TNI AL Bentuk X Point UMKM Genjot Ekonomi Masyarakat

Sabtu, 17 Januari 2026 | 01:49

Perkara Ijazah Palsu Jokowi jadi Laboratorium Nasional di Bidang Hukum

Sabtu, 17 Januari 2026 | 01:27

Trump Resmikan Dewan Perdamaian Gaza Bergaya Kolonial

Sabtu, 17 Januari 2026 | 01:01

TNI Boleh Urus Terorisme sebagai Kelanjutan Polri

Sabtu, 17 Januari 2026 | 00:45

Politikus PKB Minta Jangan Ada Paranoid soal Pilkada Via DPRD

Sabtu, 17 Januari 2026 | 00:20

Selengkapnya