Berita

martin hutabarat/net

Politik

Tidak Ada Kegentingan yang Memaksa Presiden Keluarkan Perppu untuk Pilkada

SENIN, 29 SEPTEMBER 2014 | 19:16 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Tidak ada alasan kuat atau kegentingan yang memaksa bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengeluarkan nPeraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

"Dorongan kepada SBY untuk membuat Perppu harus ditolak oleh SBY. Ini bisa membahayakan sistem ketatanegaraan kita ke depan karena implikasinya sangat luas," ujar pejabat teras DPP Partai Gerindra, Martin Hutabarat, kepada , Senin sore (29/9).

Sejumlah kalangan menganggap, Perpu diperlukan karena UU Pilkada yang baru saja disahkan di DPR terus menerus menuai polemik. Wacananya, Perpu tersebut nantinya bisa berlaku sementara agar UU Pilkada tak berlaku. Bila tak ada perubahan melalui keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), maka UU Pilkada bisa berlaku kembali.


Namun Martin menegaskan, ukuran untuk mengeluarkan Perppu kurang kuat. Tidak bisa seorang presiden asal mengeluarkan Perppu. UUD 1945 mengatakan harus ada keadaan yang genting dan memaksa. Misalnya, ada tsunami di mana Presiden harus membuat suatu kebijakan tapi terhalang karena tidak ada UU yang mengaturnya.

"Pendeknya, harus ada kekosongan hukum saat itu. Misal, DPR-nya sedang reses, baru disebut wajar kalau Presiden mengeluarkan Perppu. Kalau kasus Pilkada ini, kan tidak ada kekosongan hukum, tidak ada keadaan genting dan memaksa membuat Perppu. Undang-undang tentang Pilkada bahkan baru diputuskan oleh DPR bersama pemerintah. ," terangnya.

Bahkan, dia ingatkan, Menteri Dalam Negeri memberikan sambutan mewakili Presiden sesudah UU tersebut disahkan oleh DPR dalam sidang Paripurna.

"Bisa gawat dan berbahaya sistem kenegaraan kita ke depan kalau pribadi seorang Presiden tidak setuju terhadap UU yang dibuat DPR dan Pemerintah, lalu seenaknya membuat Perppu," tegasnya. [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Dina Sulaeman: Sikap Prabowo Beri Pesan Diplomatik Kuat untuk Palestina

Minggu, 20 September 2026 | 09:51

Ekonom Ungkap Skema Pendidikan Gratis PTN Tanpa Menguras APBN

Minggu, 20 September 2026 | 09:43

Prabowo Berencana Produksi Bensin dari Batu Bara

Minggu, 20 September 2026 | 08:56

Humanika: Jangan Jatuhkan Prabowo Sebelum Lima Tahun

Minggu, 20 September 2026 | 08:49

Sesuai Ambisi Prabowo, Kampus Negeri Jangan Cari Duit dari Mahasiswa Lagi

Minggu, 20 September 2026 | 08:22

Dubes Palestina Ungkap Momen Emosional Saat Peluk Prabowo di Gontor

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Ekonom: Prabowo Tinggal Lanjutkan Pendidikan Gratis dari SBY

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Keretakan Peradaban

Minggu, 20 September 2026 | 07:38

Wadanyon OPM Kodap 35 Bintang Timur Yahukimo Diringkus TNI

Minggu, 20 September 2026 | 06:46

DPD Tawarkan Solusi Netral Fiskal Demi Ekonomi Berlari Kencang

Minggu, 20 September 2026 | 06:19

Selengkapnya