Berita

james foley (berbaju orange) sesaat sebelum dieksusi militan berbaju hitam/net

Dunia

FBI Klaim Berhasil Identifikasi Militan ISIS Eksekutor Jurnalis AS

JUMAT, 26 SEPTEMBER 2014 | 11:51 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Badan investigasi Amerika Serikat, FBI mengklaim berhasil melakukan identifikasi terhadap seorang militan ISIS yang terlihat melakukan eksekusi seorang jurnalis Amerika Serikat James Foley dalam video yang dirilis bulan Agustus lalu.

Begitu kata Direktur FBI James Comey pada Kamis (25/9). Akan tetapi ia menolak mempublikasikan identitas militan tersebut.

Perlu dikabarkan kembali, ISIS melansir video eksekusi sejumlah jurnalis Amerika Serikat serta tahanan asing lainnya sejak Agustus lalu. James Foley merupakan jurnalis Amerika Serikat pertama yang menjadi korban eksekusi tersebut.


Dalam video eksekusi, militan ISIS yang mengenakan pakaian serba hitam dan bagian wajah, kecuali mata, tertutup itu menyampaikan pesan agar Amerika Serikat menghentikan melancarkan serangan udara ke Irak untuk membasmi ISIS sebelum akhirnya ia mengeksekusi Foley yang berlutut di dekatnya. Militan itu sebelumnya dikabarkan berbicara dalam bahasa Inggris dengan logat British yang fasih. Ia juga menyebut bahwa kematian Foley merupakan dampak langsung atas kebijakan yang diambil Amerika Serikat itu.

Pasca video eksekusi James Foley itu, sejumlah video eksekusi serupa terhadap jurnalis Amerika Serikat lainnya Steven Sotloff, dan pekerja bantuan asal Inggris David Haines.

Sejulah pejabat FBI, dikutip CNN, yakin bahwa dalam dalam tiga video tersebut, militan yang melakukan eksekusi adalah orang yang sama.

Analis Amerika Serikat menyebut bukan tidak mungkin mengidentifikasi siapa di balik pria militan ISIS pelaku eksekusi itu melalui video.

Melakukan analisa terhadap militan pelaku eksekusi tersebut merupakan hal yang penting di tengah adanya dugaan bahwa hampir 1.000 warga Inggris dan 300 warga Amerika Serikat bergabung dengan ISIS.

"Fakta bahwa mereka bersedia untuk melakukan hal semacam ini, kekecauan dan pembunhan, serta pada saat yang sama kembali ke Amerika Serikat dan Eropa untuk melakukan serangan ini adalah alasan mengapa interpol, badan-badan intelijen Inggris dan Amerika Serikat sakarang bekerja untuk melacak dengan pasti siapa orang-orang ini," kata seorang politisi Amerika Serikat Ed Royce. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Tembok Pertahanan Persib Kunci Sukses Juara Paruh Musim

Sabtu, 17 Januari 2026 | 03:36

Tabur Bunga Dharma Samudera

Sabtu, 17 Januari 2026 | 03:19

Realisasi Investasi DKI Tembus Rp270,9 Triliun Sepanjang 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 02:59

Pemerintah Tidak Perlu Dibela

Sabtu, 17 Januari 2026 | 02:40

SP3 Eggi Sudjana Banjir Komentar Nyinyir Warganet

Sabtu, 17 Januari 2026 | 02:12

TNI AL Bentuk X Point UMKM Genjot Ekonomi Masyarakat

Sabtu, 17 Januari 2026 | 01:49

Perkara Ijazah Palsu Jokowi jadi Laboratorium Nasional di Bidang Hukum

Sabtu, 17 Januari 2026 | 01:27

Trump Resmikan Dewan Perdamaian Gaza Bergaya Kolonial

Sabtu, 17 Januari 2026 | 01:01

TNI Boleh Urus Terorisme sebagai Kelanjutan Polri

Sabtu, 17 Januari 2026 | 00:45

Politikus PKB Minta Jangan Ada Paranoid soal Pilkada Via DPRD

Sabtu, 17 Januari 2026 | 00:20

Selengkapnya