Berita

net

Politik

Margarito: Yang Tidak Beres Parpol, yang Disalahkan Pilkada Langsung

SELASA, 09 SEPTEMBER 2014 | 15:35 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Jika para elite politik di DPR RI mengatakan salah satu alasan mereka ingin mengembalikan pemilihan kepala daerah ke DPRD adalah untuk meredam konflik dan menutup inefisiensi, maka ahli tata negara Margarito Kamis punya bantahan.

"Konflik? Kalau begitu ubah saja semua termasuk sistem pemilihan presiden. Karena pemilihan presiden kan potensi konflik dan polarisasinya lebih besar. Kembalikan saja Pilpres ke MPR RI," sindirnya, saat diwawancara Rakyat Merdeka Online, Selasa (9/9).

Maksud Margarito, politisi sudah menggunakan berbagai wacana untuk mengedepankan kepentingan politik golongan atau pribadinya. Dalam wacana Pilkada langsung ini, politisi memahami masalah secara setengah-setengah. Kalau begini, argumen para politisi begitu lemah.


Begitupula soal efisiensi anggaran. Sebagian politisi mengatakan Pilkada langsung memakan anggaran negara terlalu besar. Menurut Margarito, demokrasi tak melulu membicarakan anggaran. Setengah menyindir, doktor hukum asal Ternate itu meminta politisi menyerahkannya kepada ahli keuangan.

"Demokrasi itu soal transparansi, akuntabilitas dan partisipasi. Kalau mau efisien, bikin saja kayak rezim orde lama, yaitu demokrasi terpimpin. Itulah antitesa demokrasi liberal. Jadi jangan bicara efisiensi, di sisi lain mau membangun demokrasi yang transparan," terangnya.  

Masih katanya, persoalan efisiensi anggaran yang terjadi di tiap Pilkada terjadi karena regulasi yang njlimet. Selain itu, peraturan Pilkada sering tidak memiliki payung hukum atau bersifat pasal "karet".

Margarito juga menekankan bahwa akar masalah demokrasi Indonesia ada pada ketidakberesan partai politiknya.

"Semua ini gara-gara Parpol, jangan salahkan Pilkada langsungnya. Parpol tidak pernah becus dan serius memberikan pendidikan politik sehingga rakyat tidak mengerti. Parpol ini sibuk ke sana-sini  cuma jelang pemilihan umum. Tidak ada lagi pendidikan politik sampai ke ranting," tandasnya. [ald]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kapal-kapal yang Tertinggal

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:55

Teriakan ‘Bapak Aing’ Sambut Kirab Milangkala Tatar Sunda

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:36

Kebahagiaan Mahasiswa Baru

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:20

Pemerintah Mestinya Terbuka soal Harga Keekonomian BBM Bersubsidi

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:59

Nelayan Tradisional Soroti Tiga Isu Mendesak Masyarakat Pesisir

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:45

ASEAN dan Tantangan Ketahanan Energi Kawasan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:25

Eks Wakapolda Sulsel Jabat Kapolda Sulteng

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:59

KIOTEC Kunjungi Korsel Perkuat Kapasitas SDM Kelautan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:40

Meritokrasi dan Integritas dalam Promosi Perwira Tinggi TNI-Polri

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:28

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya