Berita

Bisnis

Pembangunan Industri Otomotif Jangan Matikan Sektor Migas

RABU, 03 SEPTEMBER 2014 | 19:38 WIB | LAPORAN:

Rencana pembangunan pelabuhan Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, diduga proyek pesanan Jepang. Pelabuhan itu disebut dibangun untuk mempermudah mengirimkan suku cadang dan hasil produksi mesin mobil dari Jepang.

Pakar ekonomi dari Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, menilai pembangunan tidak boleh hanya menguntungkan satu sektor dan mematikan sektor lain. Sebelumnya, Menteri Perhubungan EE Mangindaan mengatakan studi kelayakan pelabuhan tersebut terhenti karena di sekitar lokasi terdapat jaringan pipa gas milik Pertamina.

"Ini tidak seharusnya di Cilamaya karena ada potensi minyak, itu yang seharusnya dikoordinasikan jauh-jauh hari," kata Enny saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (3/9).


Enny menegaskan, jika pemerintah konsisten dengan Rencana Umum Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang dulu dikenal dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR), maka tidak akan terjadi ego sektoral seperti kasus di Cilamaya.

"Kalau di RUTR itu sangat potensial untuk eksplorasi minyak, mestinya tidak diganggu dengan kepentingan yang lain (pelabuhan). Rencana pembangunan pelabuhan bisa dipindahkan," sambungnya.

Pemerintah harusnya tetap konsistens terhadap RUTR/RTWW agar tidak saling tumpang tindih. Terlebih sektor energi yang sangat menopang industri, dan sektor industri tentunya tidak boleh mematikan sektor itu.

Sementara itu Akademisi Universitas Pelita Harapan, Tjipta Lesmana, menduga memang proyek pembangunan pelabuhan Cilamaya pesanan Jepang.

"Yang saya tahu, pabrik mobil merek Jepang ada di sana semua. Jadi butuh pelabuhan. Terlebih kalau konsultan perencanaannya Jepang," duga Tjipta.

Disambung Tjipta, ada baiknya rencana pembuatan pelabuhan dibatalkan atau kalau perlu dipindahkan. Jangan sampai kepentingan industri otomotif mengorbankan produksi migas, dengan kata lain sumur Blok Offshore North West Java (ONWJ) milik PT Pertamina.

"Kan pelabuhan bisa digeser ke tempat lain. Kalau kandungan migas di perut bumi kan tidak bisa dipindah Tidak bisa hanya demi kepentingan industri otomotif, migas dikalahkan. Migas itu sangat vital bagi kita. Produksi atau lifting harus ditingkatkan, bukan malah dipotong,"cetusnya.

Saat ini, produksi minyak nasional masih dibawah angka kebutuhan dalam negeri. Yakni produksi hanya mencapai 800 ribuan barel per hari, sedangkan konsumsi mencapai 1,6 juta hingga 1,8 juta barel per hari. [ald]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya