Berita

Wakil Rektor: Moestopo Tidak Mau Latah, Kami Bersih dari Narkoba!

RABU, 03 SEPTEMBER 2014 | 18:49 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Semakin ke sini, praktik peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang semakin canggih. Sudah rahasia umum jika praktik itu terjadi di tempat-tempat hiburan malam.

Belakangan ini tak jarang sindikat narkoba berlindung di tempat-tempat tak terduga. Di instansi pemerintahan, di balik tembok penjara atau di dalam tubuh institusi penegak hukum. Yang paling memprihatinkan peredaran narkoba merajalela di kampus-kampus, tempat di mana para calon pemimpin bangsa dibentuk. Kasus yang paling anyar adalah temuan peredaran narkotika di Universitas Nasional, Jakarta Selatan.

Menyadari fenomena negatif yang mewabah itu, Universitas Prof. DR Moestopo (Beragama) yang berlokasi di bilangan Kebayoran Baru Jakarta meningkatkan usaha persuasif memproteksi diri.  


"Kami sebenarnya tidak latah dengan isu-isu beberapa kampus yang sempat naik ke permukaan. Tapi kami sebagai institusi pendidikan yang fokus pada pengembangan kelimuan harus memproteksi diri," ujar Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan Universitas Moestopo, Dr. Andriansyah, saat diwawancara di ruang kerjanya (Rabu, 3/9) .

Tidak ingin dikatakan membatasi aktivitas kemahasiswaaan, Andriansyah menegaskan bahwa pihaknya memproteksi diri para mahasiswa dari dampak negatif pergaulan bebas.

"Khusus di Moestopo, kami sudah antisipasi dari tahun 2012 ketika bekerjasama dengan badan narkotika nasional (BNN). Kami prihatin dengan persoalan yang merusak generasi muda," kata Andriansyah.

Dia tegaskan bahwa pihak Moestopo berkomunikasi baik dengan BNN. Lembaga itu selalu dilibatkan dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Selain itu, Moestopo mempertahankan tradisi seleksi akademik dan tes narkoba saat seleksi mahasiswa baru. Setiap calon mahasiswa yang terindikasi positif, walau prestasinya baik, akan ditolak

Diterangkannya bahwa aktivitas kampus sehari-hari adalah dari jam 06.30 - 22.30. Di luar jam itu tidak ada insan kampus yang boleh beraktivitas di dalam wilayah kampus. Itulah salah bentuk proteksi diri yang belakangan ini semakin ditegaskan oleh pihak pengelola universitas.

"Memang tak semua kegiatan malam hari di kampus itu negatif, ya banyak juga yang beraktivitas dengan positif. Kalau mereka (mahasiswa) ada aktivitas yang mesti menginap, ajukan izin ke kami dan pasti kami izinkan kalau itu ada nilai kebaikan di dalamnya," jelas Andri.

"Kami tidak membatasi, tapi mengefektifkan jam operasional. Kalau kegiatannya ilmiah dan penuh kreativitas maka akan diizinkan kampus," imbuh mantan aktivis mahasiswa ini.

Sebagai mantan aktivis kampus, ia mengakui ada degradasi aktivisme kampus setelah kejatuhan rezim otoriter Orde Baru tahun 1998.

"Sebelum 98, (kehidupan kampus) itu produktif sekali. Justru di era reformasi ini banyak mahasiswa apatis, bahkan mereka membatasinya sendiri. Sedikit sekali aktivis kampus yang lahir menjadi aktivis skala nasional," sesalnya.

Dia mengakui nilai-nilai positif aktivisme kampus masih ada di era kekinian, ditopang oleh teknologi komunikasi yang canggih. Namun, kegiatan bernuansa kajian dan kelompok studi itu jauh menurun. Mahasiswa cuma aktif di kegiatan lembaga formal mahasiswa.

Dia yakin, komitmen Universitas Moestopo untuk menjauhkan diri dari peredaran narkoba dan kerusakan moral mahasiswa akan terus bertahan sepanjang zaman. Pengawasan secara bertanggungjawab atas kegiatan mahasiswa berjalan terus menerus. Bahkan ia sendiri sudah beberapa kali melakukan inspeksi mendadak ke unit-unit kegiatan mahasiswa pada malam hari.

"Pengawasan ini bukan karena ada kasus, tapi kami hanya memproteksi diri. Saya percaya di Moestopo ini jauh dari indikasi hal yang merusak. Moestopo ini clear dari masalah narkoba. Kami terus lakukan upaya preventif, bukan cuma latah-latahan," tuturnya.

Sejauh ini, lanjut dia, respons mahasiswa terhadap kebijakan pengelola kampus cukup baik meski diwarnai pemikiran kritis yang juga harus diapresiasi. Mahasiswa memahami pengawasan terhadpa kegiatan mereka adalah untuk kepentingan bersama civitas academica.
 
"Kami persuasif saja. Pada prinsipnya mereka menerima tetapi tetap kritis. Yang penting kami tidak membatasi aktivitas yang baik untuk kampus sendiri, bangsa dan negara ini," tutupnya. [ald] 

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya