Berita

megawati/net

Politik

Keputusan Mega Nodai Citra Baik PDIP

SABTU, 30 AGUSTUS 2014 | 15:47 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi buah simalakama bagi PDIP yang menjadi pemenang Pileg maupun Pilpres 2014.

Pengamat politik Andar Nubowo mengatakan bahwa sebenarnya menaikan harga BBM bukan hal yang baru bagi PDIP di bawah pimpinan Megawati Soekarnoputri. Saat menjadi presiden, Mega yang juga memiliki kekuatan parlemen hasil kemenangan PDIP di Pemilu 1999 pernah menaikan harga BBM sebanyak dua kali, yaitu pada Maret 2002 dari harga Rp 1.450 per liter menjadi Rp 1.550 per liter dan pada Januari 2003 menjadi Rp 1.810 per liter.

Namun, lanjut Andar, setelah Mega turun dikalahkan SBY, PDIP mencitrakan diri sebagai partai oposisi yang aspiratif terhadap rakyat. Untuk itu, partai berlambang banteng moncong putih ini selalu berada posisi menolak setiap ada isu kenaikan BBM.


Citra PDIP dan Jokowi yang aspiratif terhadap rakyat harus menghadapi pilihan pahit di awal kepemimpinannya. Di tengah harga BBM yang fluktuatif cenderung meningkat, PDIP dan Jokowi dihadapkan pada pilihan menaikan harga atau APBN terbebani.

"Sekarang jadi bumerang. PDIP seperti mendapat buah simalakama," ujar direktur eksekutif IndoStrategi tersebut kepada Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 30/8).

Andar menyebut, keputusan Ketua Umum Megawati yang menyatakan bahwa PDIP mendukung kenaikan harga BBM seakan telah menjawab pilihan apa yang akan diambil oleh Jokowi nanti. Keputusan ini secara langsung juga telah menodai citra baik PDIP di masyarakat.

"Citra PDIP selama ini telah ternoda. Bahkan sekarang partai ini bisa disebut plin-plan," tandas Andar Nubowo. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Di Simpang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 06:10

Kisah Karim dan Edoh: Tukang Bubur Naik Haji Asal Tasikmalaya

Jumat, 24 April 2026 | 06:01

Gurita Keluarga Mas’ud Menguasai Kaltim

Jumat, 24 April 2026 | 05:33

Pramono Bidik Kerja Sama TOD dengan Shenzhen Metro

Jumat, 24 April 2026 | 05:14

Calon Jemaah Haji Asal Lahat Batal Terbang Gegara Hamil

Jumat, 24 April 2026 | 05:11

BEM KSI Serukan Perdamaian Dunia di Paskah Nasional 2025

Jumat, 24 April 2026 | 04:22

JK Tak Mudah Hadapi Jokowi

Jumat, 24 April 2026 | 04:10

Robig Penembak Gama Ketahuan Edarkan Narkoba di Lapas Semarang

Jumat, 24 April 2026 | 04:06

Ray Rangkuti Tafsirkan Pasal 8 UUD 1945 terkait Seruan Makar Saiful Mujani

Jumat, 24 April 2026 | 03:33

Setelah Asep Kuswanto Tersangka

Jumat, 24 April 2026 | 03:24

Selengkapnya