Berita

ilustrasi

Bisnis

Menkop UKM Ngarep Industri Kakao Indonesia Saingi Swiss

Sayangnya Harga Terus Dimainin Cukong
JUMAT, 29 AGUSTUS 2014 | 09:20 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Posisi petani kakao di Indonesia hingga tahun ini masih lemah akibat berbagai faktor. Oleh karena itu, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop dan UKM) mendorong petani dan pelaku usaha kakao terus meningkatkan kapasitas dan kualitas produksinya.

“Saat ini kapasitas dan kualitas produksi kakao kita belum terlalu menggembirakan. Tapi kami akan terus berusaha membantu dan mendorong petani dan pelaku usaha kakao guna tingkatkan produksi,” ujar Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan saat membuka Bali International Cocoa Festival (BCIF) di Jembrana, Bali, kemarin.

Syarief mengaku pihaknya akan memberikan kemudahan akses pembiayaan bagi masyarakat Kabupaten Jembrana agar petani dan pelaku usaha lebih bergairah, baik melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).


Politisi Partai Demokrat itu mengingatkan, kalau petani dan pelaku usaha ingin meraih pasar dunia, maka harus optimis dan tidak boleh berhenti untuk menciptakan one village one product. Artinya, petani dan pelaku usaha harus memberi nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan.

“Nilai tambah itu bukan hanya tampilannya, tetapi harus dimulai pada saat produk itu ditanam. Termasuk di dalamnya bagaimana intrensifikasi dan memelihara produk yang dihasilkan,” jelasnya.

Dia berharap, industri kakao di dalam negeri bisa bersaing dan mengalahkan produk global.

“Kakao selalu identik dengan Swiss, saya memiliki mimpi bersama dengan petani untuk merubah maindset masyarakat. Kalau bicara soal kakao bukan lagi Swiss tapi sudah Kabupaten Jembrana,” ungkapnya.

Syarief percaya diri (pede) mimpinya itu bisa terealisasi. Alasannya, Indonesia sudah memiliki pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di antara negara-negara G20. “Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi terbesar setelah China,” ujarnya.

Dia mengklaim, turunnya angka pengangguran dan kemiskinan karena pemberdayaan petani dan koperasi yang berjalan baik. Kemiskinan berkurang karena semangat koperasi, semangat kewirausahaan yang diyakini masyarakat.

Direktur Yayasan Kalimanjari I Gusti Agung Ayu Widiastuti mengatakan, industri kakao masih terkendala akses pasar atau ke pabrik. Selain itu, kualitas dan kapasitas produksi yang masih lemah, pengembangan lahan dan keberlanjutan kakao juga belum maksimal.

Selain itu, banyak harga kakao dimainkan oleh para cukong atau tengkulak sehingga petani tetap di posisi yang sangat lemah.

Ayu mengatakan, kondisi itu berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia sebagai negara penghasil Kakao nomor tiga di dunia setelah Gana dan Pantai Gading.

“Kita negara penghasil kakao terbesar nomor tiga dunia. Kualitas produksi tidak kalah dengan negara-negara lainnya di dunia. Namun posisi tawar petani kita sangat lemah. Ini sangat memprihatinkan,” ujarnya.

Sementara Ketua Panitia BCIF 2014 Agung Widiastuti menambahkan, pelaksanaan festival ini mewadahi petani untuk saling berbagi ilmu serta pengalaman dalam meningkatkan daya tawar mereka. “Kami ingin memfasilitasi petani melalui festival ini bahwa dengan memiliki komitmen tinggi, maka akses pasar dapat diraih,” ujarnya. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya