Berita

ilustrasi/net

Bisnis

PLN Untung Gede, Semoga Tidak "Byar pet" Lagi

SELASA, 29 JULI 2014 | 22:07 WIB | LAPORAN:

Pada semester pertama tahun ini, PLN mencatatkan keuntungan hingga Rp 12 triliun. Naik 158 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2013 lalu. Para pegiat dunia maya menyindir dengan kenaikan besar itu agar tidak ada lagi byar pet alias sering padam listrik.

Dalam laporan keuangan yang diunggah di laman resmi PLN, kenaikan laba didorong oleh tumbuhnya pandapatan usaha dan keuntungan kurs. Sepanjang semester I-2014, PLN membukukan pendapatan usaha Rp 145,116 triliun. Pendapatan usaha ini terdiri dari penjualan tenaga listrik Rp 85,735 triliun, subsidi listrik pemerintah Rp 57,726 triliun, penyambungan pelanggan Rp 889,65 miliar, dan terakhir pendapatan lain-lain Rp 764,299 miliar.

Berita PLN meraup keuntungan ini pertama diposting oleh sebuah situs berita kemarin sore. Hingga kini berita tersebut sudah di-retweet sebanyak 1500 kali. Di jagat Twitter, saking banyaknya dikomentari, PLN Raup Keuntungan Rp 12 triliun sempat masuk daftar trending topik.


Ada pengguna Twitter yang heran, kenapa topik ini bisa jadi Top Trending World Wide (TTWW). Para pengguna Twitter umumnya heran dengan berita tersebut. PLN meraup keuntungan di saat perusahaan negara ini masih disorot karena sering mengeluh rugi.  

"Berita langka nih.. gak rugi lagi," kata @Mundee_.  "Kok tumben ngaku untung?," komentar @trihengky.  "Tumben untung," sambar @donianderson. Agus SH punya kesimpulan lain. "Kenapa bisa PLN Untung Rp 12 Triliun jadi TTWW.. ooh pantes aja untung banyak.. kan keseringan listrik padam trus, pelayanannya nol," sebutnya lewat @agus_ssh.  

Franky Pasaribu di akun @pasaribu_franky heran jika PLN raup untung, kenapa tarif listrik naik tiap tahunnya. "Knp tarif msh naik?" ujarnya. "Katanya rugi.. trus napa kok sering pemadaman??," tanya @RyzaOfficial. "Udah untung segitu kenapa listrik masih mahal," tanya @conan_hardy.

Sebagian Tweeps menganggap wajar saja jika PLN meraup keuntungan besar. Akun @Thoriqtorki menyindir, keuntungan tersebut diperoleh lantaran konsumen setia membayar tagihan meski sering ada pemadaman bergilir. "Mati listrik ber-jam2 kita bayar juga," kata @Thoriqtorki, sambil mengunggah link berita tersebut. “PLN Untung Rp 12 Triliun? Pantes. Sering padam listrik..,” kicau @nataliaasll. "Klo gak untung mending PLN jual martabak aja," kicau @barrahuda.  "Keuntungan sering matiin listrik,” ujar @irenlitel. Johan Chandra punya hitung-hitungannya. “Wajar! dgn matiin listrik 3 jam/hari slm 6 bln!,” kicau @johanchandra.

Sementara menurut Novi Widya, keuntungan tersebut tak sebanding dengan kerugian yang dialami konsumen akibat pemadaman bergilir. "Barang elektronik pelanggan yg rusak lbh dr 12 Trilliun," terang @putrisosmed. "Tarif naik trus, pelayanan busuk," kritik @hidungandin.  

Sebagian Tweep lagi heran, jika PLN untung kenapa masih saja ada pemadaman bergilir. "Untung nya banyak, Sumatra Utara masih mati lampu trus. Sial bacanya," keluh @rikiaswari. "Mataram juga msh mati lampu??," sebut @prabawananda. "Untung, tapi listrik Naik dan Mati terus,” keluh @RisMadrid.  Surya Yoga di akun @yayusurga lebih tegas mempertanyakan keuntungan yang diperoleh PLN. Ia menilai, PLN tak pantas meraih keuntungan di saat pelayanannya masih buruk. "Wajarkah PLN untung Rp 12 trilyun dlm 6 bulan, sementara kualitas listrik rakyat tetap byar-pet?," tanyanya.

Para tweeps berharap dengan keuntungan tersebut, PLN semakin memperbaiki kinerja dan meningkatkan pelayanan kepada konsumen.  "Selamat PLN.. kalo sdh untung, jangan iseng byar pet lagi ya," harap @aldidokter.  "Alhamdulillah, semaga tdk ada pemadaman brgilir lagi," kicau @OufiqsFuadi. "Kalo udah untung besar jgn sering mati lg y listriknya," pinta @miss1990_ .  "Semoga servicenya semakin meningkat," tulis @JevryRau sambil me-mention akun pengaduan PLN di @pln_123. "Semoga keuntungan berbanding lurus dengan pelayanan," ucap @selfrinaqueena. [why]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya