Berita

Publika

Kritik Atas Pernyataan Sikap Prabowo Subianto

RABU, 23 JULI 2014 | 12:11 WIB

ADA yang mendefinisikan bahwa politik adalah seni segala kemungkinan (art of the possible). Apapun dapat terjadi dalam dunia politik, dan tidak ada yang tidak mungkin terjadi selama kemungkinan itu masih tetap ada.

Karena di dalam dunia politik segalanya serba mungkin, siapa yang menyangka bahwa ketika masyarakat Indonesia menaruh kepercayaan dan harapan besar kepada kedua pasangan capres dan cawapres untuk mengawal proses demokrasi yang aman dan damai, seketika itu kenyataan berkata lain. Publik dibuat bertanya-tanya, mengapa Prabowo Subianto memberikan pernyataan sikap yang sekiranya dapat mengganggu tahapan proses berlangsungnya demokrasi.

Banyak masyarakat Indonesia merasa kecewa dan menyayangkan atas pernyataan sikap calon presiden nomor urut satu, Prabowo Subianto yang dengan tegas menyatakan behwa ia dan timnya menolak hasil putusan apapun yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) prihal Pilpres 2014.


Yang membuat masyarakat kecewa dan situasi sosial bergejolak adalah karena penolakan tersebut dilakukan sesaat sebelum KPU mengumumkan secara resmi hasil dari rekapitulasi suara nasional. Bukan hanya itu, Prabowo juga menginstruksikan kepada para saksinya untuk walk out dalam rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara nasional yang dilakukan di gedung KPU.

Prabowo Subianto memaparkan beberapa alasan prihal sikap politiknya tersebut. Ia menyebutkan bahwa proses demokrasi selama Pilpres 2014 kali ini cacat hukum. Telah terjadi kecurangan secara masif, terstruktur, dan sistematis yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang baginya hal ini yang menyebabkan proses demokrasi ternodai.

Prabowo menyebutkan bahwa pihaknya telah menemukan tindak pidana kecurangan pemilu dengan melibatkan penyelenggara pemilu dan pihak asing dengan tujuan tertentu hingga pemilu menjadi tidak jujur dan tidak adil. Namun demikian, apapun alasannya, banyak orang menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Prabowo Subianto tidaklah pantas dilakukan karena dapat mencederai nilai-nilai demokrasi. Apalagi mundur ketika pencoblosan sudah dilakukan dan proses penghitungan suara sedang berlangsung, hal tersebut dipandang tidak sejalan dengan Undang-Undang Pilpres.

Idealnya, Prabowo harus senantiasa menghormati dan menjalankan tahapan-tahapan yang telah ditetapkan perundang-undangan dalam proses pilpres tersebut. Dan jika seandainya Prabowo menolak hasil Pilpres dengan alasan banyak kecurangan, maka dia dapat mengajukannya ke Mahkamah Konstitusi (MK) atau melaporkan pidana kecurangan tersebut ke pihak kepolisian.

Beberapa saat setelah Prabowo menyatakan sikap politiknya untuk menolak pelaksanaan Pemilihan Presiden, suasana sosial menjadi riuh bergemuruh. Pengamat politik, ahli hukum, politisi, mahasiswa, bahkan sampai masyarakat biasa memberikan berbagai komentar dan kritikan atas sikap Prabowo tersebut.

Di media sosial seperti twitter misalnya,  hanya dalam beberapa menit saja kata kunci atau hastag “Prabowo kok begitu” menjadi trading topic yang menempati posisi pertama dalam beberapa saat. Hal tersebut merupakan wujud dari respon publik atas sikap Prabowo tersebut. Dalam komentarnya, sebagian besar pengguna Twitter merasa kecewa dan menyayangkan tindakan capres yang kerap menggunakan kemeja putih berlambang Garuda merah itu. Namun di sisi lain, tak sedikit juga yang publik mendukungnya.

Meskipun di dunia maya konflik sosial semakin memanas, namun kita harus tetap menjaga stabilitas keamanan nasional di kehidupan nyata ini. Kita harus tetap menghormati setiap putusan yang telah ditetapkan oleh KPU, karena hal itu merupakan mandat mayoritas rakyat Indonesia.

Seorang pemimpin bangsa haruslah menunjukan sikap negarawan sejatinya. “Mengakui kekalahan itu mulia, mengucapkan selamat kepada yang menang itu indah.” Pesan tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sesaat sebelum pengumuman hasil pilpres 2014.

Presiden SBY menyatakan, "rakyat ingin, situasi damai yang kita dapatkan selama proses Pemilu 2014 ini tetap dapat dijaga. Saya ingatkan kepada siapa pun, janganlah dicederai demokrasi dan tatanan kehidupan bernegara yang terus menerus kita bangun sekarang ini. Justru, kawal dan ikut mematangkannya. kekalahan itu mulia, mengucapkan selamat kepada yang menang itu indah.”

Karena bagaimana pun politik tidak hanya berbicara mengenai kekuasaan, tetapi ada hal lain seperti yang pernah diungkapkan oleh Aristoteles bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Dani Ramdhany
Ketua Umum HMI KOMFUF Cabang Ciputat Periode 2012-2013 dan Penggiat Kajian PIUSH


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Matador Pulangkan Belgia di Menit Akhir

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:14

Pengadaan Batu Bara Belum Tentu Penyebab Blackout Sumatera

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:05

Ijazah Asli Jokowi Dipastikan Sama seperti Unggahan Dian Sandi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:45

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Jampidsus Febrie Resmi Mundur

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:23

Antara VAR dan Tuduhan Argentina Anak Emas FIFA

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:02

Pemerintah Dukung Kortastipidkor Usut Tuntas Perkara Korupsi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:35

Pernyataan Febrie Dinilai Upaya Kendalikan Narasi di Tengah Deretan Fakta

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:33

Demo Copot Jampidsus Febrie

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:24

Akademisi University Swedia Teliti Penanggulangan Bencana PMI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:11

Selengkapnya