Berita

ilustrasi

Bisnis

Mentan Heran, Stok Daging Aman Tapi Harganya Sulit Dikendalikan ..

IMC: Jika Harganya Tetap Rp 100 Ribu Per Kg Berarti Ada Permainan
SELASA, 15 JULI 2014 | 09:41 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah akan memanggil para importir daging jika harga salah satu kebutuhan pokok itu di pasar terus melonjak jelang Idul Fitri.

“Pemanggilan para importir itu untuk dimintai pertanggungjawabannya jika harga daging tiba-tiba mengalami kenaikan. Soalnya, kuota impor sudah diberikan,” tegas Menteri Pertanian (Mentan) Suswono, kemarin.

 Suswono mengatakan hal itu untuk menanggapi keluhan masyarakat terkait masih mahalnya harga daging sapi di pasaran selama bulan puasa yang sudah mencapai Rp 100 ribu per kilogram (kg).


 Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengklaim pasokan daging aman dan mencukupi untuk kebutuhan Lebaran. Stok di rumah potong hewan juga aman. “Banyak stok daging yang siap jual dan didistribusikan untuk Lebaran,” bebernya.

Dia juga mengklaim ketersediaan daging sapi tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu. Karena itu, dia menjamin pasokan daging akan aman di pasaran sehingga harganya bisa dijaga.

Dengan alasan itu, Suswono mengimbau masyarakat tidak panik dengan membeli daging secara besar-besaran untuk ditimbun karena akan memicu lonjakan harga.
“Hasil tinjauan ke pasar tradisional harga daging cenderung mengalami penurunan,” katanya.

Menteri Perdagangan (Mendag) M Lutfi mengatakan, pihaknya saat ini sedang memprioritaskan pasokan daging selama Ramadan dan Idul Fitri. Dengan pasokan yang stabil, maka harga juga bisa turun dan stabil.

Menurut dia, meskipun harga di beberapa pasar tradisional mengalami penurunan, tapi tetap belum stabil. Saat ini harga daging sapi di beberapa wilayah masih bervariasi. Hal itu akibat adanya ulah oknum perdagangan yang mencoba mengambil untung lebih dengan memanfaatkan momen puasa dan Lebaran.

“Meski harganya sudah ada yang Rp 90 ribu per kg, tapi masih ada juga yang Rp 120 ribu per kg. Ada orang yang mencoba siapa tahu bisa naik lagi,” jelasnya.

Bekas Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini mengatakan, jika pihaknya sukses menjaga kestabilan pasokan, maka target harga daging Rp 85 ribu per kg bisa segera terealisasi.

“Kenapa Rp 85 ribu, karena kalau kurang dari itu tidak ada insentif bagi peternak,” imbuhnya.

Direktur Indonesia Monitoring Centre (IMC) Supriansa meminta pemerintah memberikan tindakan tegas terhadap para importir dan pedagang yang terbukti memainkan harga daging sapi di pasaran.

Menurut dia, berdasarkan data Asosiasi Industri Pengolahan Daging disebutkan, harga daging di penggemukan hanya Rp 33-34 ribu per kg. Dengan harga itu, ketika di pasar harga idealnya Rp 80-90 ribu per kg.

“Jika harganya masih tembus Rp 100 ribu berarti ada yang bermain, pedagang dan importirnya. Harus ada sanksi tegas, jangan hanya memanggil saja,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Selain itu, di juga meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) segera menindak mafia daging yang selama ini mengua�"sai pasar.

BM Sapi Indukan Diusulkan Dihapus

Untuk mendorong peternakan dalam negeri, Lutfi juga mengusulkan, agar bea masuk (BM) impor sapi indukan dipangkas jadi nol persen dari sebelumnya 5 persen. Apalagi, populasi sapi lokal terus menurun setiap tahun karena dikonsumsi terus menerus.

“Kalau masih 5 persen menyulitkan orang untuk berinvestasi. Ini supaya orang datang untuk berternak sapi di Indonesia,” kata Lutfi.

Rencananya, usulan ini akan dibicarakan antar lintas kementerian. Yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Kementerian Keuangan di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Bambang Brodjonegoro menambahkan, secara konsep pihaknya sepakat dengan usulan penghapusan BM sapi indukan untuk mendorong pertumbuhan ternak di dalam negeri.

“Secara teknis ada kesulitan karena HS (Harmonized System/Code Impor) yang berlaku internasional hanya kenal sapi betina. Jadi sulit memilahkannya,” kata Bambang. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya