Berita

ilustrasi

Bisnis

Indonesia Tak Bisa Batasi Impor Tapi Bisa Kendalikan Pasar Lokal

Jelang Kebijakan Perdagangan Bebas Di ASEAN
KAMIS, 10 JULI 2014 | 08:44 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Impor pangan mengalami lon­ja­kan di periode Kabinet Indo­nesia Bersatu (KIB) II dibanding periode KIB I.  Pemerintah me­nilai impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan men­stabilkan harga.

Badan Perencanaan Pemba­ngu­nan Nasional (Bappenas) men­catat impor beras sejak 2004 hingga 2013 mengalami kenai­kan. Pada 2004, impor beras se­banyak 236 ribu ton, lantas saat 2006 impor beras naik menjadi 438 ribu ton dan 2007 mencapai 1,4 juta ton.

Angka itu sempat menurun dua tahun, tapi tren impor beras kembali naik mulai tahun 2010, 2011 dan 2012 menjadi masing-masing sebesar 687 ribu ton, 2,7 juta ton serta 1,7 juta ton. Kenai­kan juga terjadi untuk impor cabe. Tren peningkatan impor sejak 2004 hingga 2013.


Sedangkan pada 2004, impor cabe sebesar 7 ribu ton dan me­nurun menjadi 6 ribu ton pada 2005. Mulai 2006, tren importasi cabe selalu meningkat dari 9 ribu ton berturut-turut menjadi 11 ribu ton, 14 ribu ton, 16 ribu ton, 18 ribu ton, 24 ribu ton dan pada 2012 serta 2013 nilainya turun menjadi 17 ribu ton dan 12 ribu ton.

Sementara impor daging sapi antara 2004 hingga 2010 me­ngalami kenaikan berturut-turut sebesar 11 ribu ton, 19 ribu ton, 24 ribu ton, 39 ribu ton, 45 ribu ton, 67 ribu ton, dan 90 ribu ton. Kon­disi ini memperlihatkan Indo­nesia termasuk salah satu negara yang gemar impor.

Hal itu tentu akan meningkat jika kebijakan ASEAN Economic Community (AEC) tahun depan sudah dilakukan.

Menko Perekonomian Chairul Tanjung menuturkan dalam pem­berlakuan pasar bebas Masya­rakat Ekonomi ASEAN (MEA) , Indonesia tidak bisa membatasi impor.

Kendati begitu, kata dia, pemerintah masih bisa mengatur agar pasar dalam negeri tidak diserbu produk asing. Hanya saja, pembatasan melalui kebijakan tarif salah satunya dengan mene­rapkan kebijakan bea masuk.

Chairul mengatakan, pember­lakuan bea pun ada aturannya. Untuk komoditas-komoditas ter­tentu malah hampir boleh dika­takan nol persen. Karena itu, pro­duk-produk dalam negeri tidak hanya mampu berkompetisi dengan sesama produk dalam negeri tetapi juga harus bisa berkompetisi dengan produk dari luar negeri.

Oleh karena itu, investor dalam negeri harus siap berkompetisi. Karena aturannya begitu.

Sebelumnya, Menteri Perta­nian Suswono mengatakan, im­por pangan pokok diperbo­lehkan sepanjang untuk memenuhi kekurangan produksi dari dalam negeri.  ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya