Berita

Hukum

KPK Ditantang Selidiki Dugaan Korupsi Jokowi

MINGGU, 29 JUNI 2014 | 02:23 WIB | LAPORAN:

Tim Advokasi Anti Kebohongan Surakarta (Tangkis) mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi pada Jumat (27/6) kemarin.

Turut pula Wahyu Nugroho, warga Solo yang juga saksi dugaan duplikasi dan manipulasi data Program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (Solo).

"Terkait laporan klien kami dalam hal ini belum ada pemberitahuan perkembangan secara jelas yang dikeluarkan KPK sejak 30 Agustus 2010 lalu," ungkap Ketua Tangkis Agus Setiawan saat dihubungi di Jakarta, Sabtu malam (28/6).


Atas dasar itu, Tangkis kembali mendatangi kantor KPK pada Jumat kemarin dengan membawa serta saksi. Tujuannya sebagai bukti yang menguatkan bahwa laporan yang diberikan benar adanya. Karenanya, Tangkis meminta KPK segera menindaklanjuti laporan yang ada.

"Saya kecewa, prihatin, malu, memiliki wali kota yang melanggar hukum dan melanggar etika orang Jawa. Orang Jawa tidak boleh berbohong," kata Agus.

Bahkan, dia juga berjanji bakal kembali mengantarkan saksi-saksi lain bila KPK memerlukan untuk melengkapi laporan yang dibutuhkan.

"Kami akan mengajukan lagi saksi. Kami punya sepuluh saksi," tegas Agus.

Untuk diketahui, pada 30 Agustus 2010 Tim Advokasi Anti Kebohongan Surakarta (Tangkis) mendatangi KPK untuk melaporkan dugaan korupsi yang melibatkan Joko Widodo (Jokowi), wali kota Solo kala itu yang kini menjadi gubernur DKI Jakarta non aktif dan calon presiden. Tangkis memberikan berkas dokumen yang berkaitan dengan dugaan tersebut. Tangkis juga melaporkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Solo.

Dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan birokrat Kota Solo adalah pada anggaran Belanja Hibah kepada Satuan Pendidikan/Sekolah Negeri dan Swasta (BPMKS) tahun 2010.

Pembiayaan semula dianggarkan dalam APBD-Perubahan sebesar Rp 35 miliar, dimana sebagian dananya Rp 23 miliar diperuntukkan sebagai BPMKS untuk 110 ribu siswa. Namun, pada 2011, data siswa penerima BPMKS dari APBD-P tahun 2010 setelah dilakukan verifikasi hanya tercatat untuk 65 ribu siswa dengan anggaran Rp 10 miliar. [why]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Telkom Cegah Kerusakan Terumbu Karang Lewat Program ‘Bisa Biru’

Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05

Cak Imin dan Parpol Sahabat Ikut Merumput di Turnamen Minisoccer Harlah PKB

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38

Kebutuhan Dana B50 Capai Rp32,3 Triliun, BPDP Pastikan Kas Aman

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36

Baliho Ulang Tahun Jokowi Disoal, Pengamat Minta PPID Buka Dokumen Perizinan

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23

Kejagung Teken Tiga Sprindik Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16

Zulhas Ungkap Dua Fungsi Utama Kopdes Merah Putih, Tegaskan Bukan Supermarket

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08

IHSG Sore Ini Menguat ke 6.041, Rupiah Ditutup Rp18.068 per Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00

Menpar Jamin Setiap Rupiah Anggaran Negara Dikelola Akuntabel

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51

Sentuhan Teknologi Digital Mudahkan Masyarakat Ikuti Gerakan Sedekah Subuh

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48

Curiga Ada Intervensi Jelang Musda Demokrat Aceh, Kader Kirim Surat Terbuka ke AHY

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47

Selengkapnya