Berita

Jenderal Wiranto, Orang Kuat Indonesia di Masa Depan

SABTU, 28 JUNI 2014 | 19:22 WIB | OLEH: PROF. ARIEF BUDIMAN

PERUBAHAN sangat cepat berlangsung di Indonesia hari-hari terakhir ini. Pada 21 Mei, Soeharto mundur secara dramatis, setelah menjabat presiden selama 32 tahun. Tetapi, kegembiraan mahasiswa yang berjuang berbulan-bulan untuk menurunkan Soeharto, terhalang karena Habibie-orang dekat Soeharto-menggantikan presiden. Situasi itu, bisa disebut "perubahan tanpa perubahan". Ini seperti anggur lama dalam botol baru.

Sore hari tanggal 22 Mei, Panglima ABRI Jenderal Wiranto secara mengejutkan memecat saingannya Letjen Prabowo Subianto, Pangkostrad, yang juga menantu Soeharto. Bersama Prabowo juga dicopot teman-teman dekatnya, antara lain Mayjen Muhdi, Pangkopasus. Dengan keputusan itu, Wiranto menjadikan dirinya orang paling kuat di Indonesia sekarang.

Begini penjelasannya.


Sebelum Soeharto tumbang, Prabowo membela Habibie dalam pencalonan sebagai wakil presiden. Prabowo adalah pendukung Habibie di militer. Segera setelah Habibie dilantik jadi presiden, ada kabar bahwa Prabowo akan menggantikan Wiranto sebagai Pangab. Meskipun hal itu tidak terwujud, tetaplah jadi pengetahuan umum bahwa Habibie dan Prabowo bekerjasama dalam satu tim.

Di kubu lain ada Wiranto. Dia mendapat posisi Pangab dari Soeharto, setelah melewati karir ajudan presiden. Tidak seperti Prabowo, Wiranto sejauh ini dikenal sebagai tentara profesional. Orang-orang mengatakan, Soeharto menaruh Wiranto di posisi  puncak ABRI, untuk mengimbangi Prabowo. Meskipun Prabowo itu menantunya, Soeharto tak sepenuhnya percaya kepada Prabowo. Prabowo dianggap terlalu ambisius dan terlalu pintar. Ayahnya, ekonom terpandang Prof. Sumitro Djojohadikusumo, tak selalu mendukung pemerintah. Belakangan, Sumitro mendukung Emil Salim, yang menentang Soeharto.

Setelah Habibie jadi presiden, ada tiga kekuatan politik yang bermain di Indonesia. Pertama, Habibie dan Prabowo, didukung oleh sekelompok Muslim yang diorganisir ICMI. Kedua, Wiranto yang memegang kendali ABRI. Ketiga, mahasiswa dan intelektual yang berada di belakang Emil Salim.

Hampir dapat dipastikan, Emil Salim mengantongi dukungan Bank Dunia/IMF, karena dia dikenal jujur, pintar dan dihormati kalangan ekonomi serta intelektual.

Pencopotan Prabowo, mendorong satu unsur baru dalam panggung politik Indonesia. Pertanyaannya: Untuk kepentingan siapa Wiranto mengambil keputusan itu?

Ada dua kemungkinan:

Pertama, Wiranto mencopot Prabowo itu demi kepentingan militer. Untuk mempertahankan kepentingan ABRI di kekuasaan. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa ABRI tak suka Habibie. Sebab, Habibie mengambil industri militer yang menguntungkan ke dalam departemennya, ketika ia menjabat Menristek. Dengan dicopotnya Prabowo, Habibie kehilangan pendukung militernya. Dan, tanpa dukungan ABRI, posisi Habibie sangat lemah.

Kedua, ada kemungkinan Habibie-yang menyadari Prabowo sangat tidak disukai di kalangan militer-mendadak menyadari kekeliruannya dan mengubah persekutuan dengan Wiranto. Prabowo tak disukai di ABRI, karena karirnya melonjak terlalu cepat, dengan bantuan mertuanya. Dia diberi julukan "jenderal via tol". Prabowo juga bertanggungjawab atas penculikan aktivis, penyiksaan dan penembakan mahasiswa. Menyadari hal itu, Habibie mencoba memperkuat posisinya dengan mengubah sekutu militer dari Prabowo ke Wiranto. Dalam hal ini, Wiranto bertindak demi kepentingan Habibie. Dan membentuk persekutuan Habibie-Wiranto. Tetapi hasilnya, Habibie akan sangat bergantung pada Wiranto.

Baik kemungkinan satu ataupun dua, Wiranto akan muncul sebagai orang kuat baru di Indonesia. Langkah berikutnya, bila dia mempunyai ambisi untuk jadi orang kuat di republik, adalah mengadakan persekutuan dengan kekuatan rakyat dan memaksa Habibie turun tahta. Sentimen anti-Habibie yang kuat di kalangan masyarakat dan mahasiswa, memudahkan Wiranto melakukan penyingkiran Habibie itu.

Setelah menyingkirkan Habibie, langkah Wiranto berikutnya adalah bekerjasama dengan Emil Salim dan pendukungnya untuk membentuk pemerintahan baru.

Wiranto bisa jadi presiden dan Emil wakilnya, atau sebaliknya, tergantung bagaimana kalangan sipil meningkatkan daya tawar mereka. Pemerintahan itu akan mendapat dukungan domestik, dan dukungan modal internasional. Terutama, bila mereka berhasil membentuk kabinet yang proreformasi.

Bagi saya, yang ikut dalam kelahiran Orde Baru di tahun 1966, ada perasaan kuat bahwa sejarah sedang berulang. Apa yang harus dilakukan bangsa Indonesia adalah menghindari kesalahan yang sama; yaitu melahirkan diktator militer dan korup seperti Soeharto.  [***]

Prof. Arief Budiman

Kepala Program Indonesia di Universitas Melbourne, Australia

Catatan:

Tulisan di atas dimuat media di Australia, The Australia, yang disadur XPOS pada 4 Juni 1998 kemudian disebarkan Staf Khusus Presiden, Andi Arief beberapa saat lalu.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya