Berita

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

Bisnis

KPPU Fokus Awasi Perilaku Broker & Premanisme Pasar

Jelang Puasa, Masyarakat Diminta Tenang Hadapi Kenaikan Harga
JUMAT, 27 JUNI 2014 | 09:53 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jelang Ramadhan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) fokus melakukan pengawasan terhadap lonjakan harga pangan di pasar. Hal ini untuk menekan permainan para broker.

Ketua KPPU M Nawir Messi mengatakan, fokus KPPU menjelang bulan puasa ini adalah mengamati lonjakan harga di pasar terjadi karena kartel atau karena kebijakan pemerintah. Atau juga karena pasokan yang kurang.

Menurut Nawir, pemerintah merasa tidak ada lonjakan harga pangan yang signifikan menjelang datangnya bulan Ramadhan. Hal sama disampaikan data Badan Pusat Statistik (BPS). Data lembaga statistik pemerintah itu menyebutkan, lonjakan harga pangan tidak lebih dari 2-3 persen.


Namun, Nawir mengaku fakta  di lapangan justru sebaliknya. Dia mencontohkan harga ayam. Pemerintah, sambungnya, merasa harga ayam yang naik menjadi Rp 31.000 dianggap masih wajar, padahal di tingkat ritel harga itu bisa menjadi Rp 46.000.

“Ini bukan hanya persoalan supply dan demand saja, ada persoalan perilaku,” katanya.

Dia mengatakan, perilaku yang dimaksud adalah premanisme dalam pasar, broker besar yang menghambat terjadinya persaingan. Saat ini, KPPU hanya bisa mengimbau kepada pemerintah agar membuat kebijakan dan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang selalu berulang tiap tahun, misalnya soal broker alias calo.

“Harus ada efisiensi pasar agar peternak dapat untung banyak,” ujarnya.

Salah satu cara mengurangi broker ini dengan memperpendek mata rantai distribusi yakni membangun sistem informasi pasar. Bahkan, terkait lonjakan harga ayam pihaknya sudah memanggil produsen ayam.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Abu Bakar mengatakan, saat ini belum ada identifikasi terhadap peran broker pada mata rantai distribusi.

Menko Perekonomian Chairul Tanjung atau yang akrab disapa CT mengklaim pasokan dan harga pangan relatif aman menjelang bulan puasa dan Lebaran. Menurutnya, berdasarkan laporan ada beberapa komoditas yang harganya mengalami kenaikan dan penurunan.

“Yang naik adalah harga daging ayam, telur ayam, bawang merah dan bawang putih. Tapi harga daging dan telur ayam masih dalam batas yang wajar yang sudah di-setting oleh Kemendag dan Kementan supaya petani dan peternak memperoleh keuntungan, tapi tidak merugikan konsumen,” jelasnya.

Sementara harga bawang merah dan bawang putih masih berada di bawah harga referensi. CT meminta, kepada masyarakat untuk tenang dalam menyikapi kenaikan harga tersebut. Apalagi, berdasarkan hasil peninjauan Mendag M Lutfi ke sentra bawang di Brebes, diketahui komditas tersebut sudah masuk panen raya.

Komoditas lain, seperti beras terpantau aman. Stok di pasar induk Cipinang masih terkendali. Bahkan untuk daging sapi diperkirakan terjadi penurunan harga tahun ini karena suplai daging sapi cukup. Terkait harga bahan pangan lain, misalnya cabe merah kriting, cabe rawit tak ada masalah suplai. Justru harga komoditas tersebut turun cukup signifikan di pasaran.

Sebelumnya, CT juga meminta KPPU terus berupaya menindak praktik kartel yang  menyebabkan kerugian bagi negara dan masyarakat. “Kadang ada teregister puluhan perusahaan tetapi kepemilikannya hanya empat orang. Ini KPPU bisa awasi karena akan berdampak pada hajat hidup orang banyak,” ucapnya.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Dodi Zulverdi menambahkan, kenaikan harga pangan selama Ramadhan dan Lebaran tahun ini masih normal. Alasannya, dampak kenaikan harga BBM tahun lalu sudah hilang.

Menurut Dodi, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, harga-harga memang akan cenderung meninggi selama Ramadhan dan Lebaran. Kemudian balik merendah satu bulan pasca Idul Fitri.

Menurutnya, kenaikan harga pangan pada Ramadhan dan Lebaran masih dapat dikendalikan. Ini berbeda dengan pergerakan harga pangan yang meningkat tajam pada periode yang sama tahun lalu karena ada dampak dari kenaikan harga BBM.  ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya