Berita

jokowi/net

Terbukti Jokowi Memahami Ketahanan Nasional dengan Sangat Baik

SELASA, 24 JUNI 2014 | 06:01 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Berlatarbelakang sipil, namun ternyata Jokowi mampu menjelaskan dengan baik dalam debat ketiga capres bahwa ketahanan nasional, mempunyai dua aspek yakni militer dan non-militer. Jokowi juga dengan lugas mengambil sikap tegas dan prinsipil, misalnya dalam isu Laut Tiongkok Selatan, maupun dalam dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.

Dalam isu Laut Tiongkok Selatan, Jokowi melihat Indonesia adalah negara yang tidak secara langsung terlibat dalam sengketa teritorial di wilayah tersebut. Sehingga Indonesia tidak perlu terlibat dalam isu panas itu secara langsung.

"Jokowi tidak mau membawa Indonesia dalam conflict engagement Laut Tiongkok Selatan, melainkan agar mengecek kembali apakah ada keterkaitan langsung dengan kepentingan nasional Indonesia dalam masalah ini," kata Tim Ahli Jokowi-JK, Andreas Hugo Pareira, beberapa saat lalu (Selasa, 24/6).


Sikap ini, ungkap Andreas, jelas menunjukkan Jokowi tegas mengedepankan kepentingan nasional, ketimbang membiarkan Indonesia, termasuk Asean, terjebak dalam sebuah konflik yang tidak solutif. Karena harus diakui konflik itu bisa menimbulkan kerugian bagi Indonesia dan bagi Asean, dalam hubungan dengan Tiongkok.

Dalam kasus itu, lanjut pria yang merupakan Doktor Hubungan Internasional Lulusan Universitas di Jerman itu, akal sehat dan naluri politik luar negeri Jokowi sangat bagus sekali. Apalagi itu didukung oleh gaya bahasa Jokowi yang diplomatis.

"Demikian juga dalam masalah Palestina, Jokowi tanpa ragu menunjukkan sikap tegasnya mendukung perjuangan Palestina," ujarnya.

Menurut Andreas yang juga Pengajar di Universitas Parahiyangan Bandung itu, di debat capres tahap ketiga itu, lebih pahamnya Jokowi dibanding Prabowo terkait isu yang dibahas bisa terlihat saat kata pembukaan dan penutup debat. Saat itu, Jokowi secara sistematis menjelaskan politik luar negeri sebagai respon terhadap situasi internasional.

"Kemudian prinsip politik luar negeri Bebas Aktif, strategi politik luar negeri, isu-isu strategis dan action plan, kemudian ditutup dengan doktrin politik luar negeri Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia," kata Andreas.

Andreas juga menilai Jokowi mampu memandang ketahanan nasional sebagai instrumen pendukung efektifitasnya diplomasi. "Apabila ketahanan nasional kita kuat, maka diplomasi kita akan lebih efektif, termasuk peran leadership di kawasan," ujarnya. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya