Berita

ilustrasi/net

Sucofindo dan Surveyor Indonesia Harus Bantu Produk Pertanian Masuk Pasar ASEAN

RABU, 18 JUNI 2014 | 08:14 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Bisa dipastikan produk-produk pertanian Indonesia bisa bersaing dengan produk pertanian negara lain dalam ASEAN Economic Community (AEC) karena memiliki keunggulan komparatif.

Namun demikian, tetap saja, pemerintah maupun lembaga sertifikasi produksi dan pengolah hasil pertanian seperti PT. Sucofindo dan PT. Surveyor Indonesia harus bahu membahu mempermudah jalan bagi produk-produk pertanian menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sekaligus mampu menembus pasar negara-negara ASEAN.
 
Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI Herman Khaeron saat ditanya mengenai kesiapan sektor pertanian Indonesia menembus Pasar Bebas ASEAN 2015. Menurut Herman, ada tiga UU yang bisa menjadi acuan produk pertanian memenangkan persaingan baik di dalam maupun di luar negeri. Ketiga UU itu adalah UU Hortikultura, UU Pangan, serta UU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.
 

 
"Ketiga UU itu memberikan kekuatan kita baik sebagai subjek maupun objek untuk menghasilkan produk-produk pertanian yang kompetitif dan berkualitas. Kita ini negara agraris yang beriklim tropis, sehingga mampu menghasilkan produk yang bisa berdaya saing," kata Herman.
 
Herman tidak setuju dengan pandangan sejumlah pihak yang seolah-olah menilai, sebelum diberlakukan Pasar Bebas ASEAN, pasar produk pertanian Indonesia sudah dikuasai oleh produk-produk impor. Ia menilai, yang tampak dikuasai itu hanya produk pangan, sementara untuk produk hortikultura, perkebunan, dan perikanan, sebenarnya Indonesia lebih unggul dibanding negara-negara lain di ASEAN.
 
Soal membanjirnya produk pangan impor itu, Herman menjelaskan, pemerintah memang menghadapi dilema di satu sisi harus menyediakan stok dalam jumlah yang cukup untuk seluruh kebutuhan konsumsi, sementara di sisi lain juga harus menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Inilah yang menyebabkan pemerintah sering kali memilih jalan impor untuk menjaga stabilitas harga, meskipun impor itu sesuai UU merupakan pilihan terakhir,” jelas Herman.
 
Dari sisi produksi, lanjut Herman, produk pertanian pangan Indonesia sesungguhnya tidak kalah dengan negara tetangga. Ia menyebutkan, hasil pertanian padi di Indonesia mencapai 30 juta ton, sementara Thailand hanya mampu menghasilkan 20 juta ton. Persoalannya, konsumen Indonesia jauh lebih banyak dari Thailand, sehingga Indonesia harus mengimpor produk dari Thailand yang hanya dikonsumsi 10 juta ton saja.
 
Herman juga mengingatkan, kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan, tidak seperti di Amerika Serikat atau negara-negara daratan lainnya, sehingga membuat tantangan tersendiri dalam mencapai target stabilitas harga, karena  jarak antara satu tempat ke tempat lain membutuhkan ongkos yang lebih besar.

Terkait dengan peran dua lembaga sertifikasi, yaitu PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia, dalam masalah impor dan ekspor hasil pertanian, Herman Khaeron menilai, bahwa sebagai Badan Usaha Milik Negara, kedua lembaga itu telah menjalankan peran yang maksimal dalam membantu mendorong produk pertanian Indonesia ke pasar ekspor. Hanya saja, Herman mengingatkan perlunya kedua lembaga ini meningkatkan kemampuannya seiring dengan pertumbuhan teknologi yang terus berkembang.

"Dua BUMN ini memiliki sejarah panjang, dan saya kira keduanya memiliki kemampuan untuk menjalankan perannya," ungkap Herman, sambil berharap kedua BUMN meningkatkan kulitas pelayanannya, baik kepada produsen pertanian maupun kepada para pengusaha yang bergerak di bidang pengolahan industri makanan dengan cara meningkatkan kemampuan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan mengikuti perkembangan teknologi. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya