. Rencana Prabowo Subianto membangun dua juta hektar sawah baru merupakan program bermartabat bagi rakyat sekaligus sangat realistis untuk dijalankan ke depan. Selain bisa langsung menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan, program tersebut berpotensi memberikan efek pengganda untuk mewujudkan kedaulatan pangan serta terkait upaya mengembangkan kesejahteraan hidup rakyat di kalangan petani.
"Kuncinya nanti terletak pada kebijakan pemerintah yang tidak hanya cukup dalam bentuk regulasi semata-mata, tetapi memerlukan konsistensi keberpihakan terus-menerus kepada rakyat yang tergolong petani," ujar Syahganda Nainggolan, Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC) di Jakarta, Senin malam (16/6).
Menurutnya, gagasan mencetak 2 juta hektar sawah memang menjadi salah satu program unggulan dwitunggal Prabowo-Hatta dan merupakan langkah terobosan menuju kedaulatan pangan di tanah air. Hal itu tak lepas dari fakta, terdapat sekitar 60 persen rakyat Indonesia yang bekerja dan
menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
"Meski mayoritas, toh, petani kita seperti ditakdirkan hidup sebagai warga negara kelas dua atau bahkan terpinggirkan," tegasnya.
Ditambahkan, hal itu terjadi karena sumber kehidupan para petani kurang diperhatikan, termasuk akses pada modal usaha yang selama ini kerap dinomorduakan. Sementara itu, kucuran kredit untuk sektor pertanian tidak semenarik di sektor konsumsi dan properti yang begitu diagungkan pelayanannya oleh perbankan.
"Data Bank Indonesia menyebutkan, kredit untuk sektor pertanian tak lebih 10 persen dari total kredit yang disalurkan. Banyak bank menghindar mengucurkan kredit ke sektor pertanian dengan alasan penuh risiko," jelas Syahganda.
Sedangkan dalam agenda Prabowo, katanya, untuk mencapai kedaulatan pangan nasional, produksi pangan utama Indonesia harus mampu tumbuh signifikan atau jauh lebih besar dari tingkat pertumbuhan penduduk setiap tahun, dan melebihi pula tingkat kenaikan permintaan dunia berikut tingkat kenaikan pendapatan penduduk per kapita atau pertumbuhan ekonomi nasional.
Karenanya, program Prabowo dalam soal mengangkat harkat kaum tani, kemudian mendasarkan produksi beras nasional bisa digenjot dengan mencetak dua juta hektar sawah baru dalam lima tahun. Selain dengan cara menambah alokasi APBN untuk sektor pertanian, yang saat ini baru di kisaran 2 persen, dana belasan triliun yang dikucurkan bank-bank nasional untuk membangun apartemen harus bisa dialihkan untuk mencetak sawah.
[ysa]