Berita

syahganda nainggolan/net

Syahganda: Prabowo-Hatta Terbukti Mau Reorientasikan Perbankan untuk Rakyat

KAMIS, 12 JUNI 2014 | 14:23 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Agenda Prabowo-Hatta untuk mendirikan bank tani dan nelayan yang secara khusus menyalurkan kredit pertanian, peternakan, perikanan, dan kelautan merupakan gagasan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. Agenda juga merupakan upaya mereorientasikan sistem pelayanan perbankan agar lebih berkiblat dalam memayungi kebutuhan ke arah bangkitnya ekonomi rakyat.

"Bukan rahasia, kegagalan pemerintah menyejahterakan petani dan nelayan di antaranya dipicu oleh rendahnya akses terhadap permodalan. Agenda Prabowo-Hatta ini mengisyaratkan perlunya dilakukan reorientasi mendasar perbankan yang lebih bersahabat pada petani," kata Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan, di Jakarta, Kamis (12/6/2014).

Dalam visi dan misinya, dwitunggal Prabowo-Hatta telah menggagas pendirian bank petani dan nelayan, sebagai bagian dari agenda besar reorientasi keuangan menyangkut sistem perbankan nasional. Termasuk di dalamnya, memperbesar permodalan lembaga keuangan mikro untuk menyalurkan kredit bagi rakyat kecil seperti petani, peternak, nelayan, buruh, pedagang tradisional, serta pedagang kecil lainnya.


Syahganda memastikan, gagasan Prabowo-Hatta tersebut untuk memperbesar akses permodalan kepada petani, yang tak lepas dari keyakinan kedua pemimpin bahwa sektor pertanian masih sangat strategis dan sentral. Selain sebagai penyerap tenaga kerja terbesar, juga pencipta lapangan usaha terbesar yakni di daerah pedesaan dan sekitar perkotaan (sub-urban area).

"Di pedesaan, sektor pertanian memberikan peran besar dalam pembentukan struktur kesempatan kerja sebesar 58,78 persen," tutur Syahganda.

Sektor pertanian juga mampu menghidupi masyarakat pedesaan, khususnya masyarakat miskin yang jumlahnya mencapai 20,6 juta jiwa atau sekitar 57,75 persen dari total penduduk miskin nasional.

"Sebagian besar usaha kecil dan mikro berada dan berusaha di sektor pertanian dan usaha terkait pertanian di pedesaan," lanjut kandidat doktor ilmu kesejahteraan sosial Universitas Indonesia ini.

Ia menyebutkan, sejauh ini persoalan kerap muncul lantaran dari aspek persentase kredit umum perbankan, terdapat ketimpangan begitu kentara dalam alokasi dan proporsi kredit untuk sektor pertanian.

"Celakanya, meskipun hal ini sudah lama menjadi pengetahuan umum, tetapi karena tidak ada yang mengoreksi, seakan-akan inilah kebijakan dan arah program yang seharusnya berlangsung," ujar Syahganda.

Menurutnya, kondisi atas ketimpangan inilah yang mendorong Prabowo-Hatta harus melakukan perubahan orientasi perbankan. Sehingga, perbankan nasional mampu tumbuh dalam indikator makro perbankannya, tapi diikuti keberpihakan pada sektor pertanian di basis pedesaan.

Secara elementer, katanya, reorientasi ini dimulai dengan peningkatan alokasi, proporsi kredit perbankan, terutama perbankan persero milik pemerintah kepada sektor pertanian di wilayah pedesaan untuk petani, nelayan, termasuk golongan usaha rumah tangga, mikro dan kecil.

"Jadi, reorientasi perbankan sangat diperlukan, walaupun saat ini sudah banyak program perkreditan yang dijalankan, seperti KUK (Kredit Usaha Kecil) atau KUR (Kredit Usaha Rakyat), KUT (Kredit Usaha Tani), dan lain-lain, namun kenyataannya masih sangat terbatas dan menyulitkan, di samping tetap dibiarkan menghadapi benturan persyaratan formal perbankan," jelas Syahganda. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya