Berita

ilustrasi/net

PILPRES 2014

Bawaslu Tak Perlu Cari Panggung Lewat Pelanggaran Ringan

SABTU, 07 JUNI 2014 | 08:44 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) tidak perlu berlebihan dalam menangani dugaan pelanggaran aturan kampanye pilpres. Untuk pelanggaran administratif yang ringan, Bawaslu juga harus tetap bekerja secara proporsional, dan tidak boleh terkesan malah menjadikan kasus dugaan pelanggaran ringan sebagai panggung agar dianggap bekerja.

"Kenapa malah ke hal yang sifatnya administratif, pelanggaran ringan, yang bukan pidana pemilu justru seperti dijadikan panggung. Sementara untuk pelanggaran serius seperti politik uang, kampanye hitam, dan soal dugaan mobilisasi Babinsa malah terkesan kurang serius," kata Pengamat Politik dari Lingkar Madani (Lima) Indonesia Ray Rangkuti, Jumat malam (6/6).

Ray menanggapi pemanggilan calon presiden (capres) Joko Widodo (Jokowi) oleh Bawaslu atas aduan Tim Hukum Prabowo-Hatta yang menilai Jokowi mencuri start kampanye karena mengajak memilih nomor dua saat memberikan sambutan di KPU dalam acara pengundian nomor urut. Ray berpandangan lebih baik Bawaslu proporsional menangani setiap aduan.


"Hak semua pasang untuk melaporkan, yang terpenting, Bawaslu jangan membesarkan yang kecil yang sifatnya administratif, dan jangan mengecilkan yang besar yang sifatnya pidana pemilu," ujarnya.

Jurubicara Tim Pemenangan Jokowi-JK, Hasto Kristiyanto mengatakan, Jokowi menjadi korban politisasi hukum atas pengaduan dugaan melakukan pelanggaran kampanye. Namun begitu, Jokowi dipastikan akan hadir memenuhi undangan klarifikasi ke Bawaslu. Hal ini mengingat bahwa apa yang dilakukan Jokowi tidak ada pemaparan visi-misi, dan acara itu tidak dilakukan oleh tim kampanye Jokowi, tetapi oleh KPU, serta tidak ada upaya meyakinkan pemilih.

"Jokowi berpidato karena permintaan Ketua KPU dalam kaitannya dengan agenda rapat pleno terbuka pengambilan nomor urut. Karena itulah sambutan Jokowi pun terkait dengan nomor urut," paparnya.

Dia mengungkapkan, Jokowi memang memiliki kepekaan politik karena kemampuannya mendengarkan suara rakyat. Pada kesempatan tersebut sesuai kesempatan yang diberikan pimpinan sidang, Jokowi menjelaskan makna nomor 2. Secara simbolik nomor 2 kemudian dijelaskan oleh Jokowi merupakan  simbol keseimbangan dan harmoni.

"Jokowi dapat nomor 2 sehingga wajar jika disampaikan bahwa mereka yang mendukung Indonesia yang lebih harmonis dan seimbang, silahkan coblos nomor 2," jelasnya.[ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya