Berita

sidarto/net

Tak Etis Bila Ketua MPR Politisasi Isu HAM

SELASA, 03 JUNI 2014 | 07:17 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Logika Ketua MPR Sidarto Danusubsoto cukup dangkal, dengan analisa yang keliru, dalam menyikapi persoalan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang begitu kompleks. Pernyataan Ketua MPR Ini juga tidak memiliki korelasi dengan persoalan yang sesungguhnya begitu rumit dan melibatkan variabel jamak.

"Mengarahkan justifikasi subjektif pada Prabowo sebagai variabel tunggal dalam situasi seperti sekarang sangat dimungkinkan Ketua MPR tidak objektif, dan lebih tepat disebut tudingan, apalagi dia anggota tim sukses  rival capres Prabowo," kata Koordinator Jaringan Aktivis Pro Demokrasi Dan HAM, Jailani Paranddy, beberapa saat lalu (Selasa, 3/6).

Perkataan Jailani ini terkait dengan pernyataan Ketua MPR RI saat menerima aktivis dan keluarga korban pelanggaran HAM di gedung MPR RI. Kata Sidarto, Prabowo tidak mau datang saat dipanggil Komnas HAM pada tahun 2006 adalah merupakan sebuah pembangkangan hukum.


Menurut Jailani, pernyataan ini tidak etis dilakukan oleh ketua MPR. Terlebih lagi dengan memanfaatkan gedung MPR untuk kepentingan propaganda dan penggalangan opini politik.

"Karena kami berpendapat saat ini ketua MPR sedang mengalami persoalan split personality, dimana dia tidak bisa memisahkan kapasitas dirinya sebagai ketua MPR dan Tim Sukses Capres," tegasnya.

Kata Jailani, memang benar bahwa keberadaan Komnas HAM dijamin oleh UU,  dan bahwa seluruh warga negara Indinesia harus taat hukum termasuk Prabowo yang kini menjadi calon presiden. "Namun konteks kasus dan konsideran aturan yang dikutip, dengan situasi yang melingkupi semangat pernyataan ketua MPR itu tidak memiliki korelasi," terangnya.

"Ini sebuah cara propaganda yang ahistoris, tengok saja, saat pilpres 2009 dimaana capres PDIP Megawati berpasangan dengan Cawapres Prabowo, dan sat itu isu HAM Prabowo tidak pernah mengemuka bahkan cenderung dianggap clear," tandas Jailani. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya