Berita

teguh santosa/rmol

Dunia

PELANGGARAN HAM

Jaringan Masyarakat Sipil Indonesia Dirikan Soli Sahara

SABTU, 24 MEI 2014 | 11:43 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Dunia internasional harus bahu membahu menyelidiki dengan seksama kehidupan di dalam kamp Tindouf. Sudah terlalu banyak laporan mengenai pelanggaran HAM di dalam kamp pengungsi itu. Namun sejauh ini belum ada tindakan konkret menghentikannya.

"Semuanya baru sebatas keprihatinan dan kecaman," ujar aktivis pro demokrasi Teguh Santosa dalam keterangan yang diterima redaksi.

Bersama sejumlah rekannya, Teguh yang adalah Ketua bidang Luar Negeri PP Pemuda Muhammadiyah dan juga Ketua bidang Luar Negeri Jaringan Aktivis ProDem baru-baru ini mendirikan Solidaritas Indonesia untuk Sahara atau Soli Sahara.


Kamp Tindouf berada di wilayah Aljazair, dekat perbatasan dengan Sahara Maroko. Kamp ini awalnya menampung orang-orang Sahrawi yang mengungsi menyusul konflik Polisario dan Maroko yang bermula pada 1976.

Tahun 2010 Teguh mengunjungi wilayah Sahara Maroko yang sering disebut Sahara Barat. Dalam kunjungan itu ia bertemu dengan orang-orang yang melarikan diri dari Tindouf karena kekerasan yang dilakukan Polisario.

"Kasus pengungsi melarikan diri dari Tindouf terus terjadi sampai kini. Mereka membawa cerita yang sama, cerita kekejaman rezim Polisario," katanya lagi.

Pada 2011 dan 2012 Teguh merupakan salah seorang petisioner yang memberikan penjelasan dalam pembahasan konflik Sahara Barat di Komisi IV PBB di New York. Dalam kesempatan itu ia menyampaikan dukungan agar UNHCR melakukan sensus untuk mengetahui kehidupan pengungsi di Tindouf.

Beberapa tahun terakhir ditemukan indikasi kuat bantuan kemanusiaan menjadi objek korupsi elit Polisario dan dijual ke negara lain di Afrika. Juga mulai muncul indikasi kuat aktivitas terorisme di kawasan Sahel atau Sub Sahara melibatkan jaringan di Tindouf.

"Sensus di Tindouf memberikan gambaran utuh mengenai kehidupan pengungsi, termasuk latar belakang sebelum bermukim di kamp," demikian kata dosen Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta ini. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya