Berita

gus dur/net

Warga NU Tak Pilih Jokowi Bila Cerita Penggulingan Gus Dur Kembali Tersebar...

JUMAT, 23 MEI 2014 | 14:41 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjadikan warga Nahdliyin sebagai jualan dalam setiap kampanye. Bahkan, dengan merapat ke Jokowi, PKB pun menjadikan "orang NU" sebagai modal untuk mendapat kompensasi lebih.

Namun ada cerita menarik yang kembali beredar belakangan ini seputar permainan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar saat menyingkirkan Ketua Dewan Syuro PKB, yang juga mantan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (NU) Abdurrahman Wahid. Yang lagi-lagi, dalam kampanye kemarin nama besar Abdurrahman Wahid pun menjadi dibawa-bawa oleh PKB Muhaimin.

Bagaimana dengan sepenggal cerita yang beredar itu?


Setelah Muhaimin Iskandar dipecat Gus Dur dari PKB, ia mendatangi kantor salah seorang di lingkaran satu SBY. Kepada orang itu, di kawasan Blok M, Muhaimin mengiba agar dibantu melawan Gus Dur.

Mendapat permintaan dari Muhaimin, orang itu pun akhirnya menelepon orang lain lagi, yang juga lingkaran satu Istana.

"Pak, ini Muhaimin di depan saya. Apa yang harus dilakukan," tanya si pemilik kantor di kawasan Blok M itu.

Di seberang telepon, orang satunya menyambut " Muhaimin suruh gugat Gus Dur ke pengadilan. Nanti akan saya atur."

Begitu cerita yang kini beredar lagi. Entah apa makna di balik kata atur dari orang penting di lingkaran SBY itu. Namun faktanya, akhirnya Gus Dur tersingkir, dan Muhaimin mengendalikan PKB.

Keluarga Gus Dur, di bawah komando Yenny Wahid, sempat menggelar Muktamar PKB. Namun sayang, pemerintah SBY, yang memiliki tangan di Kementrian Hukum dan HAM, mendelegitimasi PKB Yenny Wahid, yang sejatinya adalah PKB yang asli. Kini, yang berkibar adalah PKB Muhaimin.

Meski bisa dikatakan kini hanya ada satu PKB, namun diyakini oleh sementara orang, cerita ini bila beredar luas akan mengingatkan kembali keluarga Gus Dur secara khusus dan keluarga besar NU secara umum, bahwa sesungguhnya ada kedzaliman yang dilakukan Muhaimin kepada Gus Dur. Dan ini bisa berdampak pada pilihan politik di 2014 bahwasannya keluarga NU tidak akan memilih Jokowi. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya