Berita

Politik

Pramono Edhie Sampaikan Tiga Kemungkinan Koalisi ke Staff Ahli Kedubes Jepang

SENIN, 05 MEI 2014 | 21:18 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ‎Tentara Nasional Indonesia (KSAD TNI) dan Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Pramono Edhie Wibowo, tadi siang (Senin, 5/5) bertemu dengan Staf Ahli Bidang Politik Kedutaan Besar Jepang, Shintani Naoyuki.

Bertempat di Media Centre Pramono Edhie Wibowo, keduanya menghabiskan waktu sekitar 60 menit berbincang dan berdiskusi mengenai kondisi dan dinamika politik Indonesia pasca Pemilu Legislatif 2014 dan menjelang Pemilu Presiden 2014.

Dalam kesempatan tersebut Edhie menyampaikan bahwa ‎Naoyuki banyak bertanya mengenai kemungkinan koalisi antar partai pasca Pemilu Legislatif lalu dan menghadapi Pemilihan Presiden mendatang.


"Saya sampaikan bahwa di luar dugaan, hasil hitung cepat dan exit poll yang dilakukan beberapa lembaga survey pasca Pemilu Legislatif lalu mengharuskan bahkan partai dengan perolehan suara terbanyak pun untuk berkoalisi untuk bisa mengusung seorang calon Presiden. Hasil ini tidak seperti yang diramalkan lembaga-lembaga survey tersebut," lanjut Edhie.‎

Masih dalam kesempatan yang sama, Edhie lanjut menjelaskan bahwa dirinya membeberkan tiga kemungkinan sikap yang partainya bisa lakukan.

"Tiga opsi yang mungkin kami sebagai partai bisa lakukan adalah; satu, Partai Demokrat bisa berkoalisi dengan salah satu dari 3 partai dengan perolehan suara terbesar hasil hitung cepat, harus menerima kondisi tidak bisa mencalonkan Presiden. Kedua, Partai Demokrat bisa berinisiatif membentuk poros koalisi sendiri bersama dengan partai lain dengan perolehan suara hasil hitung cepat lebih kecil, mengusung calon Presiden sendiri; ketiga, jika menang melalui opsi 1 dan 2, terlibat aktif dalam Pemerintahan, dan jika kalah mengambil posisi oposisi," jelas Edhie.

Dia juga menghimbau Pemerintah Jepang untuk bersabar dan terus mengikuti dinamika politik yang terjadi hingga 1-2 minggu ke depan.

Dalam kesempatan ini, Naoyuki mengakui bahwa pihaknya ingin‎ mendapatkan informasi mengenai peta koalisi yang mungkin terjadi.

"Jepang adalah negara sahabat Indonesia sejak lama, Pemerintah Jepang ingin mengetahui lebih dalam kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sebagai referensi akan hubungan bilateral Jepang-Indonesia di masa depan," jelas Naoyuki.[dem]


Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya