Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ‎Tentara Nasional Indonesia (KSAD TNI) dan Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Pramono Edhie Wibowo, tadi siang (Senin, 5/5) bertemu dengan Staf Ahli Bidang Politik Kedutaan Besar Jepang, Shintani Naoyuki.
Bertempat di Media Centre Pramono Edhie Wibowo, keduanya menghabiskan waktu sekitar 60 menit berbincang dan berdiskusi mengenai kondisi dan dinamika politik Indonesia pasca Pemilu Legislatif 2014 dan menjelang Pemilu Presiden 2014.
Dalam kesempatan tersebut Edhie menyampaikan bahwa ‎Naoyuki banyak bertanya mengenai kemungkinan koalisi antar partai pasca Pemilu Legislatif lalu dan menghadapi Pemilihan Presiden mendatang.
"Saya sampaikan bahwa di luar dugaan, hasil hitung cepat dan exit poll yang dilakukan beberapa lembaga survey pasca Pemilu Legislatif lalu mengharuskan bahkan partai dengan perolehan suara terbanyak pun untuk berkoalisi untuk bisa mengusung seorang calon Presiden. Hasil ini tidak seperti yang diramalkan lembaga-lembaga survey tersebut," lanjut Edhie.‎
Masih dalam kesempatan yang sama, Edhie lanjut menjelaskan bahwa dirinya membeberkan tiga kemungkinan sikap yang partainya bisa lakukan.
"Tiga opsi yang mungkin kami sebagai partai bisa lakukan adalah; satu, Partai Demokrat bisa berkoalisi dengan salah satu dari 3 partai dengan perolehan suara terbesar hasil hitung cepat, harus menerima kondisi tidak bisa mencalonkan Presiden. Kedua, Partai Demokrat bisa berinisiatif membentuk poros koalisi sendiri bersama dengan partai lain dengan perolehan suara hasil hitung cepat lebih kecil, mengusung calon Presiden sendiri; ketiga, jika menang melalui opsi 1 dan 2, terlibat aktif dalam Pemerintahan, dan jika kalah mengambil posisi oposisi," jelas Edhie.
Dia juga menghimbau Pemerintah Jepang untuk bersabar dan terus mengikuti dinamika politik yang terjadi hingga 1-2 minggu ke depan.
Dalam kesempatan ini, Naoyuki mengakui bahwa pihaknya ingin‎ mendapatkan informasi mengenai peta koalisi yang mungkin terjadi.
"Jepang adalah negara sahabat Indonesia sejak lama, Pemerintah Jepang ingin mengetahui lebih dalam kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sebagai referensi akan hubungan bilateral Jepang-Indonesia di masa depan," jelas Naoyuki.
[dem]