poempida hidayatullah/net
. Kalangan DPR mendesak pemerintah segera menyelesaikan WNI yang tertahan saat melahirkan anak di rumah sakit Kuala Lumpur oleh pihak imigrasi Malaysia.
"Pemerintah harus segera mengambil tindakan nyata untuk menyelesaikan kasus ini sebagai bentuk perlindungan terhadap warga," kata Anggota Komisi IX DPR RI, Poempida Hidayatulloh saat dihubungi di Jakarta, Minggu (04/05).
Poempida mengkritik sikap pemerintah yang sangat lemah merespon permasalahan WNI. Jika kebijakan politik luar negeri Indonesia lemah dan tidak bersikap tegas, maka dikhawatirkan akan terjadi anarkisme balik di Indonesia.
"Jika pemerintah tidak bertindak sesegera mungkin, maka hampir dapat dipastikan trend kekerasan terhadap WNI akan terus terjadi," kata wakil ketua Timwas TKI DPR ini.
Berdasarkan informasi yang diterima Timwas TKI DPR RI pada tanggal 13 April, WNI bernama Siti Sudarni (Paspor AR 428087) telah melahirkan bayi bernama Kenzie Abid Amarullah pada 14 April di RS Umum Kuala Lumpur. Oleh pihak imigrasi Malaysia, Siti Sudarni langsung ditahan dengan alasan tidak jelas.
Pada 29 April, suami Siti Sudarni bernama Supriyanto (Paspor AR 705727), telah menerima surat petunjuk Imigrasi (IM.101/A/889/7/56) untuk memajukan pengurusan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) di KBRI, tetapi prosedur ini telah ditolak oleh loket No. 12, 15 dan 24 dengan alasan dokumen Imigrasi Malaysia tidak lengkap.
"Ibu dan anak itu tertangkap sehari selepas melahirkan anak dan surat keterangan kelahiran ikut bersama ibu ditahan Imigrasi Bukit Jalil," terang Poempida.
Karena itu, Timwas TKI DPR meminta pihak Kounsular untuk membantu Ibu dan anak dalam pengurusan SPLP untuk pemulangan mereka ke Indonesia. "Atas alasan kondisi anak yang masih terlalu muda, kami mohon kedua ibu dan anak agar bisa dipulangkan ke tanah," ujar Poempida.
Jika pemerintah Indonesia tidak melakukan tindakan nyata, maka tidak akan memberikan efek jera kepada pemerintah Malaysia. "Tiadanya tindakan pemerintah RI tidak memberikan efek peringatan yang membuat jera pihak Malaysia," tandas Pompida.
[rus]