Polisi Irlandia Utara di Inggris menangkap Presiden Sinn Fein, Gerry Adams. Pria yang berusia 65 tahun itu ditangkap karena dituduh terlibat dalam pembunuhan seorang janda, Jean McConville, pada tahun 1972 yang dilakukan pasukan pembebasan Irlandia, IRA.
Gerry Adams memimpin partai politik Sinn Fein sejak 1983. Di bawah kepemimpinannya Sinn Fein memperoleh dukungan yang semakin besar baik di Irlandia Utara yang merupakan bagian dari Kerajaan Inggris maupun di Republik Irlandia.
BBC melaporkan, Gerry Adams menyerahkan diri ke markas polisi hari Rabu malam (30/4).
Sebelum menyerahkan diri ke markas polisi di Antrim, ia menggelar jumpa pers dan menolak keterlibatannya dalam pembunuhan yang dilakukan IRA terhadap Nyonya McConville yang ketika itu berusia 37 dan memiliki 10 orang anak.
Ny. McConville diculik pasukan IRA dari flatnya di Divis, Belfast Barat. Dia dituduh menjadi mata-mata yang memberikan informasi kepada pasukan Inggris ketika konflik terjadi di Irlandia Utara. Setelah dieksekusi, mayatnya dikubur di sebuah tempat rahasia. Tahun 2003 lalu mayat Ny. McConville ditemukan di County Louth.
Dalam keterangannya sebelum menyerahkan diri, Gerry Adams menyampaikan sikapnya terhadap pembunuhan itu.
"Saya percaya pembunuhan Jean McConville dan penguburannya di tempat rahasia sebuah tindakan yang salah dan ketidakadilan yang luar biasa terhadap dirinya dan keluarganya," uajr Gerry Adams.
Namun, ia menolak terlibat dalam pembunuhan itu.
"Tuduhan yang dipublikasikan dengan baik sengaja dibuat untuk menyerang saya," sambungnya.
Dia juga mengatakan walau tidak pernah melepaskan diri dari IRA, namun ia sama sekali tidak pernah terlibat dalam pembunuhan itu.
Salah seorang anak Ny. McMaconville, Michael, menyambut baik penahanan itu. Ketika ibunya diculik dan dibunuh untuk selanjutnya dimakamkan di tempat rahasia, Michael baru berusia 11 tahun.
"Yang kami cari adalah keadilan untuk ibu kami. Ibu kami, tanggal tujuh bulan depan (Mei) seharusnya berusia 80 tahun," ujar Michael.
[dem]