Berita

Politik

JK Lebih Cocok Jadi Wantimpres

SELASA, 29 APRIL 2014 | 20:52 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Jusuf Kalla alias JK disarankan tidak maju sebagai cawapres pada Pilpres nanti. Mantan Wapres yang kini memimpin Palang Merah Indonesia itu dinilai lebih cocok menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

"Beliau (JK) sangat bagus memantau jalannya pemerintahan dari jauh," jelas Dosen Ilmu Politik UIN, Faisal Nurdin Idris saat dihubungi wartawan (Selasa, 29/4).

JK yang kini berusia 70 tahun lebih tentu diharapkan tetap memberikan nasihat berbangsa dan bernegara tanpa harus terlibat langsung dalam pemerintahan. Tapi, kata Faisal, JK diharapkan memahami pentingnya proses kaderisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


"Sehingga nanti akan ada generasi baru yang masuk dalam pemerintahan," sambung dia.

Penolakan JK sebagai cawapres telah disampaikan banyak kalangan. Tadi siang, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa untuk Indonesia Bangkit (GMIB) menggelar aksi keprihatinan atas pencalonan JK di Bundaran HI, Jakarta.
 
Kordinator aksi GMIB Ahmad Ghufron mengungkapkan, banyak desakan agar JK kembali maju sebagai cawapres dimunculkan pihak-pihak yang menghendaki kepentingan tertentu. "Desakan (JK jadi cawapres) itu sudah massif, terutama di twitter. Pengamat juga dikondisikan. Para cukong itu yang menggerakkan,” jelasnya.

Padahal, kata Ghufron, desakan tersebut tanpa disadari telah menghina JK dalam kapasitasnya sebagai guru bangsa. Apalagi usia JK saat ini sudah di atas 70 tahun. "Kami prihatin. Pak JK bagi kami adalah mantan wakil presiden yang bersih tanpa cacat. Beliau adalah negarawan," tandasnya.

Sementara itu, anggota aksi Aditya Pramana dalam orasinya menyatakan, pihaknya tidak rela JK dicalonkan sebagai cawapres. Pasalnya, besar kemungkinan JK hanya akan dijadikan alat untuk kepentingan kelompok yang tak bertanggungjawab. "Kami menolak Pak JK jadi cawapres, bukan hanya untuk Jokowi, tapi juga capres lain. Pak JK bukan bumper politik. Pak JK bukan alat pemuas nafsu kekuasaan," demikian Aditya.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya