PT Jasa Marga (Persero) Tbk
PT Jasa Marga (Persero) Tbk menggandeng tiga perusahaan tol swasta dari tiga negara untuk mengembangkan jalan bebas hambatan di Indonesia. Ketiga perusahaan itu yakni Jepang, Korea dan Malaysia.
Direktur Utama Jasa Marga Adityawarman mengungkapkan, pihaknya telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan tiga negara tersebut pada Forum Bisnis Konferensi REAAA (Road Engineering Association of Asia and Australia) di Nusa Dua, Bali.
Menurut dia, ketiga pihak asing itu adalah West Nippon Expressway Company Limited dan Japan Expressway International Company Limited dari Jepang, POSCO Engineering & Construction Co Ltd dari Korea, dan CMS Works International Limited dari Malaysia.
Meski Jasa Marga adalah pemimpin pasar di industri tol untuk membangun dan mengembangkan di Indonesia, tetap saja diperlukan kerja sama dengan pihak lain.
“Kita bisa belajar dari mereka sekaligus transfer ilmu teknologi terkini di bidang industri jalan tol,†kata Adityawarman, kemarin.
Misalnya, Jepang dikenal memiliki keunggulan teknologi tol di atas laut, sehingga Indonesia perlu belajar soal itu. Meski perusahaan-perusahaan itu digandeng tapi tetap komposisi Jasa Marga sebagai mayoritas.
Adityawarman membeberkan, untuk tahap awal ada peluang mengajak swasta Korea Selatan untuk membangun tol Menado-Bitung.
“Kami mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan ada kemungkinan ini inisiatif Jasa Marga untuk membangun tol,†ungkapnya.
Sementara untuk swasta dari Malaysia akan diajak bekerja sama untuk pembangunan tol Kunciran-Cengkareng dan pendukung tambahan di ruas Daan Mogot - Cengkareng sepanjang 3,45 kilometer.
Sedangkan perusahaa Jepang, kemungkinan diajak untuk proyek tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi. “Kami baru menang tender di situ,†aku Adityawarman.
Menurut dia, dengan menggandeng swasta asing ada transfer teknologi sehingga diperoleh efisiensi, misalnya biaya konstruksi yang lebih kompetitif.
“Angka pastinya belum dibicarakan, tetapi secara perseroan ekuitas kami Rp 10 triliun hingga Rp 15 triliun dan ini bisa menghasilkan pinjaman sindikasi perbankan hingga Rp 60 triliun,†tuturnya. ***