Berita

Politik

Ubah Koalisi Dagang Sapi, Kawinkan Popularitas dan Kompetensi

SENIN, 14 APRIL 2014 | 21:28 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemerintahan mendatang dipastikan kembali pemerintahan koalisi. Pasalnya, tidak ada satu pun partai politik yang memperoleh suara 25 persen.

Calon presiden Konvensi Rakyat Rizal Ramli punya konsep koalisi yang ideal. Menurut dia koalisi harus dilakukan berdasakan basis ideologi, platform dan program.

"Koalisi yang betul di seluruh dunia seperti itu. Tapi koalisi di Indonesia kebanyakan dagang sapi," kata Rizal dalam debat Lawan Bicara yang disiarkan live Metro TV sesaat tadi (Senin, 14/4).


Menurut Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini, tradisi buruk koalisi dagang sapi harus diubah. Partai-partai besar yang ada cukup merangkul satu atau dua partai yang penting persyaratan admistratif mengajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden sebesar 20 persen kursi DPR bisa terpenuhi.

Persoalan lain, kata dia, koalisi dibangun berdasarkan pertimbangan popularitas bakal capres atau cawapres semata, dan meniadakan kompetensi yang dimiliki bakal capres atau cawapres sebagai pertimbangan.

"Memang di Indonesia dilematis. Dalam sistem kita yang paling populer yang terpilih. Padahal dalam konteks negara berkembang belum tentu itu yang paling kompeten. Ada kontradiksi antara popularitas dan kompetensi," papar tokoh yang dikenal sebagai ikon perubahan tersebut.  

Capres paling ideal menurut Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) ini mencontohkan, sistem yang berlaku di Prancis, misalnya, orang yang menjadi presiden memang orang yang paling populer. Tetapi, roda pemerintahan sehari-hari dijalankan perdana menteri. Presiden hanya punya hak veto.

"Menurut hemat saya, kita harus kawinkan popularitas dan kompetensi. Karena kalau hanya sekedar popular tidak cukup, cepat atau lambat rakyat pasti akan kecewa.  Jadi kita harus kombinasikan popularitas, kedekatan rakyat dengan kompetensi dan track record  baik," demikian Rizal Ramli.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya