Berita

prabowo s/net

Politik

Konglomerat Pendukung Jokowi Gelar 'Operasi Intelijen' Jegal Prabowo

MINGGU, 13 APRIL 2014 | 23:24 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Prabowo Subianto banyak disebut satu-satunya figur yang bisa mengalahkan Joko Widodo pada Pilpres Juli 2014. Sebelum benar-benar terjadi, pendukung Jokowi menempuh sejumlah langkah salah satunya dengan menggelar "operasi intelijen".

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Herdi Syahrasad membenarkan adanya operasi intelijen tersebut. Ia mengaku sudah banyak mendengar informasi dari berbagai pihak dan layak dipercaya mengenai operasi yang dilakukan para pendukung Jokowi terutama kalangan konglomerat yang tidak mau Prabowo memimpin negeri ini.

Menurut Herdi, nyaris semua konglomerat dari ras tertentu berupaya semaksimal mungkin agar Prabowo tak berhasil mendapatkan boarding pass alias tiket untuk melaju dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 9 Juli nanti.


Caranya, menurut Herdi saat berbicara dalam diskusi politik yang digelar Freedom Foundation di Jakarta, hari ini (Minggu, 13/4), para pimpinan parpol diiming-imingi sejumlah imbalan agar menolak kalau diajak berkoaliasi oleh Partai Gerindra. Dengan begitu Gerindra yang hanya memperoleh suara 12 persen dalam Pileg 9 April lalu tak mampu mengajukan capresnya karena tak berhasil memenuhi syarat presidential threshold 25 persen suara nasional atau 20 persen kursi di DPR.

Diungkap Herdi, seperti dilansir indopos.com, skenario akhir dari operasi intelijen para konglomerat tersebut menjadikan capres yang akan berlaga dalam Pilpres 9 Juli nanti hanya dua orang, yakni pasangan Jokowi dari PDIP dan pasangan Aburizal Bakrie atau ARB alias Ical dari Partai Golkar.

Bagi Jokowi bersaing dengan Ical bukan PR berat. Cukup menyerang Ical dengan kasus Lumpur Lapindo, Jokowi sudah bisa dipastikan menang.[dem]


Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya