Berita

Politik

Disayangkan, Pembicaraan Koalisi Pilpres Hanya Didasari Perolehan Kursi

MINGGU, 13 APRIL 2014 | 22:47 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pertemuan antar elit partai politik guna membahas capres dan cawapres yang akan diusung makin gencar dilakukan. Namun disayangkan, pembicaraan koalisi tersebut hanya didasarkan pada platform idiologi dan jumlah perolehan kursi di DPR semata.

"Harusnya yang dibicarakan soal mau dibawa kemana Indonesia kedepan," ujar Sekjen Pusat Aspirasi Kaum Buruh Indonesia (PASKABI) Sucipto dalam pesan elektroniknya kepada redaksi (Minggu, 13/4).

Menurut dia pembahasan koalisi capres cawapres semestinya dilakukan berdasarkan visi bagaimana memperbaiki bangsa dan negara. Misalnya, terkait masalah dimana sekarang ini semua kebutuhan kita mulai dari kebutuhan pokok hingga kebutuhan sekunder sangat tergantung pada produk luar negeri.


Atau, pembicaraan koalisi didasarkan pada pertimbangan bagaimana meningkatkan kesejahteraan rakyat karena sekalipun Indonesia kaya raya akan sumber daya alam tetapi masih menjadi negara miskin.

"Sangat naif sekali pimpinan partai maupun capres-capres yang ada hanya memetingkan diri sendiri dan kelompoknya," imbuh Sucipto.

Dia mengatakan saat ini kita benar-benar menunggu kehancuran karena pemimpin partai maupun capres-capres yang ada membicarakan masa depan bangsa dan negara bukan berdasarkan kepentingan rakyat.

"Masing-masing ketua partai mengaku pantas menjadi capres dan menjadi cawapres padahal mereka tidak visioner. Model capres dan cawapres yang beredar di pasaran transaksi politik merasa dirinya paling pantas memimpin negara ini, padahal merekalah yang akan menipu rakyat," demikian Sucipto.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya