Berita

Mengapa Jokowi Effect Kalah dari Prabowo Effect?

JUMAT, 11 APRIL 2014 | 06:07 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

"Nyanyian" berbagai lembaga survei bahwa pencapresan Jokowi membuat PDI Perjuangan menang telak di pemilihan legislatif dengan perolehan suara di atas 30% terbukti pepesan kosong belaka. Meski menjadi pemenang, berdasarkan hitung cepat, PDI Perjuangan hanya meraih suara 19%, selaras dengan perkiraan hasil survei sebelum Jokowi mendeklarasikan diri sebagai capres.

"Prabowo effect secara kasat mata hasilnya terlihat jauh lebih baik dibanding Jokowi effect. Gerindra yang pada pemilu 2009 meraih 4,46% secara nasional, saat ini menurut quick qount menempati urutan ke tiga dengan meraih suara di kisaran 11-12 %," ujar Dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI) Dewi Haroen kepada wartawan tadi malam (Kamis, 10/4).

Menurut pakar personal branding ini, ada kenyataan yang luput dari mata pengamat dan lembaga survei tentang kejelian Prabowo Subianto mengajak orang-orang komunikasi di barisannya. Pemilihan orang-orang yang tepat untuk memudahkan komunikasi dengan media menjadi kunci penting bagi Prabowo dalam mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya. Tim media dan komunikasi Prabowo terlihat bekerja maksimal melalui berbagai media termasuk sosial media yang dulu dikuasai Jokowi.


Sehingga, personal branding Prabowo sebagai pribadi yang bersikap tegas terhadap apapun, antikorupsi, jiwa sosialnya yang sangat tinggi, serta konsep ekonominya yang sangat jelas untuk memakmurkan rakyat yang kuat, secara terus menerus dikomunikasikan dengan baik dan konsisten kepada swing voters sampai hari H pencoblosan.

"Ini yang tidak disadari Jokowi dan tim pendukungnya dari PDIP. Bisa jadi mereka sama sekali tidak mempelajari bagaimana Jokowi berhasil dalam pilkada DKI. Mereka merasa di atas angin karena menganggap Jokowi ‘media darling’ serta terbuai dengan hasil survei," kata penulis buku "Personal Branding, Kunci Kesuksesan Berkiprah di Dunia Politik" itu.

Sebaliknya, tim pendukung Jokowi tidak melakukan upaya yang nyata sehingga pemilih tidak mendapat informasi yang cukup tentang dirinya.

"Pada saat-saat akhir jelang kampanye ada pergeseran persepsi masyarakat terhadap figur Jokowi yang disebut sebagai capres boneka dan selalu manut pada Megawati. Padahal seharusnya situasi dan kondisi yang ‘rawan’ ini disikapi dengan cerdas oleh tim. Pembiaran inilah yang berharga mahal dengan tidak efektif nya personal brand Jokowi terhadap PDIP di Pileg 2014," demikian Dewi Haroen.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

War Tiket Haji Untungkan Orang Kaya

Minggu, 12 April 2026 | 04:17

Paradoks Penegakan Hukum

Minggu, 12 April 2026 | 04:12

BPKH Pastikan Dana Haji Aman di Tengah Dinamika Global

Minggu, 12 April 2026 | 04:00

Kunjungi Rusia Jadi Sinyal RI Tak Mutlak Ikuti Garis Barat

Minggu, 12 April 2026 | 03:40

Anak Usaha BRI Respons Persaingan Bisnis Outsourching

Minggu, 12 April 2026 | 03:16

Ibadah Haji Bukan Nonton Konser!

Minggu, 12 April 2026 | 03:10

Lebaran Betawi Bukan Sekadar Seremoni Pasca-Idulfitri

Minggu, 12 April 2026 | 02:41

Wapres AS Tatap Muka Langsung dengan Delegasi Iran di Islamabad

Minggu, 12 April 2026 | 02:03

Petugas Terlibat Peredaran Narkoba di Rutan Bakal Dipecat

Minggu, 12 April 2026 | 02:00

Andre Rosiade: IKM akan Menjadi Mitra Konstruktif Pemda

Minggu, 12 April 2026 | 01:46

Selengkapnya