Berita

Politik

Disayangkan, Nasdem Sodorkan Cawapres Tidak Bersih ke PDIP

KAMIS, 10 APRIL 2014 | 21:32 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Petinggi PDI Perjuangan menemui petinggi Partai Nasdem di kantornya di kawasan Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, siang tadi. Rombongan PDIP diwakili Sekjen Tjahjo Kumolo dan Wasekjen Hasto Kristiyanto, sementara Nasdem dipimpin langsung oleh Ketua Umum Surya Paloh.

Kabarnya, dalam pertemuan kedua partai membahas cawapres. Partai Nasdem mengajukan Jusuf Kalla untuk disandingkan dengan Jokowi sebagai pasangan Capres dan Cawapres. Oleh Partai Nasdem, nama Jusuf Kalla disodorkan sebagai syarat koalisi.

Tak sedikit kalangan menyayangkan sekaligus mempertanyakan langkah Partai Nasdem itu. Jusuf Kalla dinilai sosok yang tidak pro perubahan dan kesejahteraan rakyat.


"Rekam jejak Jusuf Kalla tidak memberi harapan bagi terwujudnya perubahan dan kesejahteraan rakyat," kata Lukman Hakim dalam pesan elektroniknya kepada redaksi (Kamis, 10/4). 

"Sayang sekali kalau partai Nadem sebagai partai baru yang mengaku sebagai pelopor gerakan perubahan mengusung Cawapres yang jauh dari cita-cita perubahan Indonesia yang lebih baik dan terwujudnya kesejahteraan rakyat," sambung pengajar di Universitas Mustopo Beragama itu.

Menurut dia saat Jusuf Kalla menjabat Wapres SBY dengan tugas utama mengurus ekonomi, terjadi penguasaan ekonomi untuk kepentingan bisnisnya. Lukman mencontohkan diantaranya pembangunan airport Ujung Padang, airport Medan dan dua airport di Kalimantan. Lalu, membersihkan utang di Mandiri dan BNI, saham kosong di Semen Gresik, proyek-proyek listrik, dan tabung gas.

"Partai Nasdem hendaknya mengusung cawapres yang bersih dari KKN, punya kompetensi, visi kebangsaan dan punya hubungan internasional yang baik," kata aktivis 98 itu.

"Sebaliknya, lebih baik PDIP dan Jokowi koalisi tanpa jabatan cawapres dari parpol agar tidak terjadi dualisme kepemimpinan dalam kabinet," demikian Lukman.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya