. Ada yang tidak beres di balik quick count berbagai lembaga survei yang dirilis pada Rabu kemarin, tidak lama setelah tempat pemungutan suara (TPS) ditutup.
Demikian kecurigaan yang muncul dari sementara kalangan, terutama dari internal PDI Perjuangan, yang pada survei per Maret 2014 ada yang merekam data perolehan suaranya antara 25-30 persen. Mereka curiga semua lembaga pembuat quick count membantu pihak yang berkepentingan untuk menahan laju menang besar PDI Perjuangan.
Kepentingan mereka bermacam-macam. Ada yang mau mempertahankan gengsi hingga bila pun jatuh, tidak terlalu dalam dan terperosok. Ada juga yang mau meraih kekuasaan dengan cara instan dan mudah. Keutungan pun dibagi rata, dengan muara menghentikan ancaman baru yang merongrong mereka, yaitu kemenangan besar PDI Perjuangan.
Dengan keutungan yang dibagi rata itu, ada partai yang akhirnya tidak terlempar dari arena pemilu, meskipun beberapa lembaga survei sebelumnya sudah memprediksi ada beberapa partai yang akan terlempar, dan bukan hanya Partai Bulan Bintang (PBB) serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Ada juga partai-partai yang diuntungkan karena posisi tawarnya untuk membangun koalisi tidak lemah lagi.
Kecurigaan mereka ini semakin mengkristal, setelah membuka fakta bahwa semua lembaga
quick count tidak ada yang "dekat" dengan PDI Perjuangan, atau dengan kata lain dikuasi lawan-lawan PDI Perjuangan. Misalnya ada satu lembaga survei yang bisa bekerjasama dan menguasai beberapa tekevisi, plus media non-televisi.
Lebih menarik lagi, hampir semua data hitung cepat dari berbagai lembaga survei itu
stuck di bawah 1 persen sampai pukul 14.00 WIB. Dan, semua hitung cepat baru selesai ketika matahari sudah cukup lama terbenam atau sekitar dan di atas pukul 20.00 WIB. Padahal biasanya, hitung cepat sudah tuntas dan diketahui hasilnya pada pukul 16.00 WIB atau pukul 17.00 WIB.
Hal lain yang juga mengherankan, total perolehan suara partai-partai berbasiskan muslim menjadi 30 persen. Padahal dari tahun ke tahun, hingga Pemilu 2009, total partai berbasis massa Islam ini tak lebih dari 25 persen. Apatah lagi, berbagai survei per Maret 2014 sudah banyak merilis partai Islam ini akan banyak bertumbangan.
Demikian kecurigaan mereka ini mulai dan semakin menggumpal, setelah hampir semua ketua umum partai politik, yang biasanya bersikap normatif menanggapi hasil survei, misalnya dengan mengatakan akan menunggu hasi
l real count dari rekaputalasi KPU, ramai-ramai menyambut
quick count tanpa
reserve.
Maka kini, kecurigaan ada
silent operation lewat
quick count itu mulai mengalir deras, dan bisa jadi akan menjadi wacana dalam beberapa hari mendatang.
[ysa]