. Di tangan Megawati Soekarnoputri, PDI Perjuangan sudah belajar dan bersikap menjadi partai oposisi yang baik selama sepuluh tahun terakhir ini. Dengan sikap ini, sistem demokrasi di Indonesia terjaga dari otoritariansime baru karena ada proses check and balances.
Banyak yang memprediksi, di pemilu tahun ini, PDI Perjuangan akan menjadi juara. Diperkirakan pula, Jokowi, yang merupakan capres PDI Perjuangan, akan memenangkan Pilpres dan akhirnya menjadi Presiden mendatang.
Bila ini memang terjadi, maka PDI Perjuangan akan menjadi partai pemerintah. Di titik inilah, disebutkan, berdasarkan informasi dari dalam, PDI Perjuangan pun akan mengajari Partai Golkar menjadi oposisi yang baik. Caranya, dengan tidak melibatkan elit Golkar manapun untuk terlibat dalam pemerintahan.
Itu sisi ideologisnya. Sisi teknisnya, sejatinya Megawati Soekarnoputri tidak percaya dengan elit-elit Golkar yang terlalu banyak bermanuver. Sudah jadi rahasia umum, manuver Golkar selalu didasari oleh kepentingan politik semata, dan kapan saja bisa berbalik arah seiring dengan angin politik yang berhembus.
Karena itu, tertutup kemungkinan, untuk tidak mengatakan mustahil, Megawati akan mencarikan pendamping Jokowi dari elit Golkar. Faktanya, semua elit Golkar sama saja; cenderung pragmatis. Tak terkecuali Jusuf Kalla sekalipun, yang belakangan namanya sering disebut.
Jusuf Kalla sulit menjadi pendamping Jokowi karena beragam alasan. Diantarannya masalah usia. Usia JK, begitu Jusuf Kalla disapa, selevel dengan Megawati, yang Megawati sendiri sudah rela dan ikhlas tidak lagi duduk di pemerintahan.
Alasan lain, JK sudah berpengalaman di pemerintahan. Alasan ini seakan-akan menjadi modal orang-orang dekat JK untuk mengawinkan dengan Jokowi. Padahal dari sisi orang-orang Jokowi, ini justru kelemahan JK. Sebab JK bisa dinilai akan menelikung Jokowi, dan akan terus membayangi-bayangi Jokowi. Dengan sikap JK yang suka
nyelonong dan
sok tahu, bisa jadi JK akan menyendera Jokowi.
Bahkan alasan yang juga tak kalah penting. Sudah jadi rahasia umum pula di kalangan politisi, JK selalu mementingkan lingkaran bisnisnya, dan juga lingkaran kelompoknya, untuk menguasai berbagai proyek. Maka hampir bisa dipastikan, bila ini terjadi, kaki dan tangan Jokowi akan terikat sementara JK bebas melenggang.
[ysa]