Pemilu harus menjadi alat pemersatu bangsa, bukan sebaliknya menjadi ajang perpecahan. Pemilu hanya alat untuk mencapai satu tujuan bersama yakni Indonesia yang lebih baik.
Hal ini disampaikan kandidat calon presiden Partai Demokrat Gita Wirjawan, Senin (7/4) di Jakarta. Menurut Gita, perbedaan ideologi dan kepentingan jelas ada antar perserta pemilu. Ada 12 partai politik ditambah 3 partai politik lokal di Aceh yang bertarung dalam pemilu.
Namun hal tersebut diharapkan jangan jadi benih perpecahan. “Apapun partainya, tujuannya pasti sama, menyejahterakan rakyat dan membawa Indonesia menjadi lebih baik,†kata mantan Menteri Perdagangan ini.
Jika sudah ada satu tujuan maka gesekan-gesekan yang berpotensi terjadinya perpecahan tentu bisa dihindarkan. Apalagi sebelum kampanye terbuka digelar, seluruh pemimpin partai politik telah menandatangani kesepakatan damai.
Gita menyesalkan masih adanya insiden kekerasan yang mewarnai pemilu kali ini seperti yang terjadi di Aceh. Beruntung pihak kepolisian bertindak sigap sehingga insiden itu bisa diredam dan tidak meluas.
Terhitung sejak awal pekan ini, masa tenang dimulai. Seluruh aktivitas kampanye ataupun rapat terbuka partai politik dilarang. Seluruh atribut kampanye juga diminta untuk dilepas sebelum pelaksanaan pencoblosan pada tanggal 9 April 2014.
Gita berharap masa-masa tenang ini benar-benar menjadi masa “tiarap†tanpa ada aktivitas politik apapun. Terlebih upaya politik uang yang dikahwatirkan terjadi pada masa tenang ini.
Bukan hanya sebatas pemberian uang tunai, namun juga pemberian iming-iming materi disertai arahan untuk mencoblos partai atau calon legislatif tertentu.
Cara-cara curang ini tentu harus bisa dicegah. “Pilih calon pemimpin yang benar-benar berkualitas, bukan karena uangnya,†ujar Gita. Siapun wakil rakyat yang jadi nanti bakal mempengaruhi wajah Indonesia dalam lima tahun ke depan.
Terakhir, Gita mengajak kepada seluruh untuk bersama-sama ke tempat pemungutan suara. “Jangan sampai golput,†kata Gita menegaskan.
Indonesia harus jadi lebih baik untuk lima tahun ke depan. Cukup sudah golput menjadi juara pada pemilu 2009 yakni lebih dari 30 persen. Indonesia harus bisa membuktikan diri sebagai negara demokrasi terbesar keempat di dunia dengan cara menyukseskan pesta demokrasi secara jujur, adil, bebas, dan rahasia.
[dem]